Pesona Hutan Mangrove dan Ancaman Bagi Atmosfer Bumi

BERBAGI
Para aktivis penyelematan ekosistem laut, melakukan penanaman Mangrove di daerah Untia, Makassar beberapa waktu lalu/ IST

SULSELEKSPRES.COM – Pesona Hutan Mangrove mampu menyerap orang untuk berkunjung, sebagai lokasi wisata alami. Hutan yang berada pada batas darat dan laut ini, memiliki habitat yang unik dibanding Hutan di dataran rendah atau dataran tinggi dan pegunungan.

Dengan ukuran dan tinggi batang yang nyaris rata dan seragam dengan tutupan daun hijaunya, tumbuh berkelompok di pesisir sebagai pagar pembatas, baik pengaruh dari darat ke laut, maupun pengaruh dari laut ke darat, karena letaknya yang berada di pesisir.

Di luar dari fungsi wisata, Hutan Mangrove juga memiliki banyak fungsi.

1. Fungsi langsung untuk Kehidupan Manusia

Pengelompokannya Mangrovetermasuk pada ekosistem laut. Ada empat yang masuk ke dalam ekosistem laut, yakni Terumbu Karang, Padang Lamun, Hutan Mangrove dan Estuaria (pertemuan air asin dan air tawar atau payau).

Sebagai Ekosistem Laut, fungsi Hutan Mangrove sendiri cukup banyak. Baik untuk manusia dan juga hewan- hewan laut yang tentunya kembali juga pada manusia. Sumber- sumber tersebut menjadi sumber pangan.

“Mangrove bisa menjadi tempat pemijahan sebagian Ikan- ikan dan hewaan laut lainnya. Analoginya seperti panti asuhan. Setelah mulai besar, Ikan-ikan tersebut baru bermigrasi ke dalam laut,” jelas salah seorang pemerhati Ekosistem laut, Prayogo PB Kusuma.

2. Melindungi dari bencana Darat da Laut

Mangrove bisa menetralisir gelombang laut, sebelum masuk ke darat. Ia berkolaborasi dengan terumbu karang dan Padang Lamun. Sehingga, kemungkinan untuk terjadinya abrasi (pengikisan air laut)) di wilayah pesisir sangat kecil, atau bahkan tidak ada.

Sementara itu, jika Musim Angin Barat dimana terjadi angin kencang, Hutan Manggrove juga bisa meredam agar tidak terlalu kencang menerpa kawasan pesisir.

Bagaimana dengan serangan dari Darat? Mangrove dapat menahan zat- zat perusak biota laut yang berasal dari darat. Zat- zat pestisida atau limbah darat yang mengalir ke laut, dapat diminimalisir oleh Mangrove.

Proses tumbuhnya yang berada di kawasan percampuran air asin dan tanah, membuat kawasan sekitarnya seperti lumpur, namun memang itulah tempat yang baik untuk proses tumbuhnya. Dia memiliki akar napas atau akar yang tumbuh keluar dari tanah. Sehingga, penampilannya juga unik.

3. Kebaikan Mangrove bagi Atmosfir Bumi

National Geographic pernah merilis di situsnya (http://ngm.nationalgeographic.com/2007/02/mangroves/warne-text) pada Febriari, 2007 lalu menyebutkan, Indonesia merupakan negara dengan Mangrove terbesar di dunia. Mangrove memiliki produktivitas karbon tertinggi dari ekosistem alami apapun (sekitar seratus pon per hektar (45 kilogram per 0,4 hektar) per hari) dan sepertiga dari ini dapat diekspor dalam bentuk senyawa organik untuk lumpur.

Mangrove, adalah pabrik karbon, dan merusaknya berarti merusak lingkungan laut dari elemen vital (Mangrove). Konversi hutan Mangrove ke tambak, dapat mengubah penyerap karbon menjadi sumber karbon, membebaskan akumulasi karbon kembali ke atmosfer, tetapi 50 kali lebih cepat dari pada yang disimpan.

“Mangorve dapat menyimpan Karbon 10 kali lebih banyak dibanding hutan biasa, dana akn tersimpan. Namun jika ditebang atau rusak, maka dia akan melepas juga karbon itu ke atmosfir,” ujar Direktur Blue Forest Sulawesi M. Yusran, beberapa waktu lalu.

Sayangnya, dengan banyaknya fungsi Mangrove, masih sedikit orang yang berjuang untuk melindungi Mangrove dan persebarannya. Sementara, kerusakannya bisa mengancam kapan saja.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, pada Konferensi Internasional Ekosistem Mangrove Berkelanjutan, di Bali, 18 April 2017, dalam sambutannya menuturkan, berdasarkan data One Map Mangrove, luas ekosistem mangrove Indonesia 3,5 juta hektare yang terdiri dari 2,2 juta ha di dalam kawasan dan 1,3 juta ha di luar kawasan mangrove. Ekosistem mangrove tersebut berada di 257 kabupaten/kota yang sebagian besar ekosistemnya telah mengalami kerusakan (dikutip dari, Mongabay.com,)

Kerusakan tersebut disebabkan konversi lahan menjadi area penggunaan lain, perambahan, hama dan penyakit, pencemaran dan perluasan tambak, serta praktik budidaya yang tidak berkelanjutan. Indonesia memiliki sekitar 202 jenis tumbuhan mangrove.

loading...