Cakka dan kisahnya di Tongkonan Lima

BERBAGI

LUWU – Atap Tongkonan Lima tertimpa cahaya bulan yang belum sempurna. Di bawah atap, ukiran Pakapu Baka remang, hanya separuh sisi terlihat. Kontras pada ruang bawahnya.

Tongkonan Lima riuh oleh laku para tamu yang dominan masih serumpun. Ada juga orang-orang dari lembang sekitar. Termasuk orang-orang partai, meskipun hanya sekejap lalu pamit pulang. Tampaknya mereka tak ingin mengganggu acara tuan rumah walau itu bukanlah acara resmi, hanya silaturrahmi.

Malam itu suasana Tongkonan Lima berbeda dari hari-hari biasanya. Ramai. Itu karena mereka didatangi seorang tamu, yang sejak datang langsung berbaur dengan orang-orang yang memenuhi lima teras Tongkonan Lima.

Cakka nama tamu itu. Ia datang hanya ditemani beberapa orang saja, yang sebagian besar memakai baju yang di dadanya bertuliskan ‘punggawa macakka’. Ketika datang, Cakka tak duduk di kursi yang disiapkan tuan rumah. Ia malah memilih duduk bersila bersandar pada tiang tongkonan. “Lebih enak begini, santai,” kata Cakka

Cakka datang memenuhi undangan pemilik Tongkonan Lima, Bapak Angga. Begitu orang-orang memanggilnya. Bapak Angga seorang pedagang besar di Toraja dan Toraja Utara. Salah satu tongkonan itu miliknya. Tongkonan itu megah. Penuh ukiran Toraja yang beda motif.

Bagi Bapak Angga, kehadiran Cakka atas undangannya di tongkonannya adalah sebuah anugerah besar. Meskipun sudah seringkali tongkonan miliknya di datangi “orang-orang besar”.

“Pak Victor, bupati sekarang pada malam penusukan pilkada lalu, ia menghabiskan malam di sini. Victor menang. Dan kita doakan juga Cakka menang di Toraja dan Toraja Utara,” begitu kata Bapak Angga.

Cakka bak orang Toraja asli malam itu. Berbaur, bercerita lepas sambil menikmati sajian kopi Toraja yang disajikan di atas tikar. Ia tak banyak cerita pemilihan gubernur 2018. “Daumo kucaritakang ki. Ta paham mo le,” ujar Cakka berbahasa campuran Luwu-Toraja.

Nuansa Toraja semakin terasa, ketika santap malam digelar. Sajian nasi panas, tanpa sayur, ayam bakar dipadu lombok tumbuk yang hanya diberi garam, sungguh menggoda lidah siapa saja. Apalagi di tengah gempuran cuaca dingin.

Sebelum makan, pendeta memandu doa bersama. Dalam doanya, pendeta meminta pada tuhan kiranya hajatan Cakka ikut pemilihan gubernur memperoleh hasil yang baik. Berharap pasangan Ichsan-Cakka menang. Doa itu diaminkan sekaligus penutup jumpa Cakka bersama orang-orang Toraja. Walaupun hanya semalam di Toraja, tapi ia menjadi kenangan sepanjang masa.

loading...