Penulis Indonesia Eka Kurniawan Tampil pada Gothenburg Book Fair 2017

BERBAGI
Eka Kurniawaan/ KEMLU.GO.ID

SWEDIA, SULSELEKSPRES.COM – Gothenburg Book Fair 2017 akan digelar pada 28 September – 1 Oktober 2017. Event literasi tersebut sering diikuti oleh lebih dari 800 eksibitor dan dikunjungi oleh tidak kurang dari 100 ribu pengunjung.

Dilansir daari situs resmi kemenerian luar negeri, tatap muka inspiratif serta debat dengan para novelis, penyair, ilmuwan, sejarawan, ilustrator, jurnalis dan filsuf dari seluruh dunia merupakan bagian dari acara pameran buku terbesar di wilayah Skandinavia ini.

Salah satu penulis Indonesia, Eka Kurniawan, menjadi pembicara yang tampil dalam acara seminar bersama dengan penulis terkemuka dunia lainnya seperti Arundhati Roy, Val McDermid, Sophie Kinsella, Kitty Crowther, Joachim Gauck, Loretta Napoleoni, Ágnes Heller, Samar Yazbek dan Catherine Merridale.

Eka Kurniawan adalah salah satu penulis kontemporer Indonesia yang paling menarik dan bukunya telah diterjemahkan ke lebih dari 25 bahasa. Eka Kurniawan bahkan diibaratkan seperti Salman Rushdie dan Gabriel Garcia Marquez. Novelnya Cantik Itu Luka yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris berjudul Beauty is a Wound, dinobatkan sebagai puncak dari “an Indonesian one-hundred years of solitude”.

Pada pameran di Gothenburg ini Eka yang juga penulis Manusia Harimau iyu, tampil menjadi pembicara pada tanggal 29 september 2017 yang mengupas salah satu novel karangannya berjudul “Beauty is a Wound” yang mendapat apresiasi sangat besar. Buku tersebut telah diterjemahkan ke dalam bahasa Swedia dengan judul “Skönhet är ett Sår”.

Gothenburg Book Fair mulai diadakan sejak tahun 1985 sebagai ajang konferensi bagi para pustakawan. Pada awalnya dikunjungi oleh sekitar 5000an orang. Saat ini Gothenburg Book Fair telah menjadi pameran buku terbesar di wilayah Skandinavia bagi para pecinta buku dan pustakawan.

Eka sendiri seringkali disebut- sebut sebagai penerus penulis Indonesia ternama Pramoedya Ananta Toer. “Bagi saya, sebutan sebagai pelanjut Pram itu sangat tinggi. Namun, mungkin saja saya disebut sebagai Pram karena memang namanya paling terkenal di sastra dunia,” Ungkap Eka saat mengghadiri Makassar International Writers 2016 lalu.

loading...