Eksotisme Danau Tanralili yang Memanjakan Mata dan Pikiran

BERBAGI
Salah seorang pecinta alam tengah menikmati pemandangan di Danau Tanralili/ SULSELEKSPRES.COM/ RAHMI DJAFAR

SULSELEKSPRES.COM – Penelitian yang dipublikasikan oleh Michigan University menemukan, dengan berjalan-jalan di alam seperti hiking, memancing, atau naik gunung, dapat menurunkan tingkat kecemasan hingga tekanan mental pada tubuh. Bahaya kesehatan mental tersebut, erat kaitannya dengan risiko penurunan kesehatan fisik, dilansir dari hellosehat.com.

Nah, salah satu lokasi yang bisa menjadi tempat refreshing di wilayah Sulawesi Selatan adalah, Danau Tanralili yang ada di Kaki Gunung Bawakaraeng, Kabupaten Gowa.

Lokasi ini bisa ditempuh dengan mudah. Bertolak dari Makassar akan lebih mudah menggunakan sepeda motor, menuju Malino melalui Jalan Hertasning. Setelah memasuki jalan poros Malino, terdapat 2 pilihan belokan yaitu belok kanan di depan pasar sebelum memasuki kawasan Malino menuju, Kecamatan Parigi, ini merupakan jalur yang paling cepat.

Begitu tiba di titik penghentian terakhir untuk kendaraan, kita bisa memarkir kendaraan di rumah warga, yang biasanya dikenakan biaya per kendaraan roda dua Rp 5.000 sama dengan harga masuk per orang menuju Danau.

Danau Tanralili ini terletak di kaki Gunung Bawakaraeng. Danau Tanralili sering disebut juga sebagai Ranukumbolonya Gunung Bawakaraeng. Danau Tanralili terbentuk akibat longsoran Gunung Bawakareng yang membentuk cekungan yang dalam.

“Tanralili memang sering menjadi lokasi kami jika sekedar ingin memanjakan mata dengan pemandangan alam bebas. Selain menguras banyak tenaga kepuasan akan terasa nikmat saat berjalan bersama dengan sahabat dan tiba di danau yang memiliki medan magnet untuk membuat kita kembali ke sana,” ujar salah seorang penikmat wisata alam, Prayudha.

Tanralili diambil dari nama salah satu kerajaan di Sulawesi Selatan yang terkenal pemberani. Untuk menuju Danau Tanralili, kita harus trekking selama 3 jam dari desa terakhir yaitu Desa Lengkese.

Untuk menuju Danau Tanralili, kita harus trekking selama 2 jam perjalanan (untuk waktu tempuh standar) namun jika anda ingin berjalan santai bisa hingga 3 jam. Dari basecamp, perjalanan di mulai dengan melintasi jalan tanah dan akan melewati danau kecil dan setelah itu akan melewati jalur berbatu dengan kondisi terbuka sehingga jika jalan ketika siang hari sangatlah panas menyengat. Karena itulah, sebagian besar memilih berjalan malam. Namun perjalanan malam, disarankan anda harus memiliki alat penerang yang memadai, sebab 70% lokasi berupa tebing dan jurang, sehingga harus ekstra hati- hati.

Namun, trekking yang menguras tenaga akan terbayar tuntas, begitu memasuki kawasan danau. Bukit dan lembah yang hijau dengan aliran sungai di bawah yang terlihat jelas ditambah dengan kabut yang cukup menambah eksotisme tempat ini.

Danau Tanralili, udara sejuk dan suara gemericik air dari aliran sungai kecil dan air terjun kecil dan nyanyian pengunjung lain yang sesekali terdengar. Danau Tanralili di lembah dari 2 tebing tinggi yang hijau.

“Biasanya di sini paling ramai pada akhir pekan, karena lokasinya mudah dijangkau,” ujar Prayudha.

Satu hal yang harus diingat, belum banyak pohon besar yang kuat diidaerah sekitar, sehingga penggunaan hammock masih dilarang, termasuk dengan larangan berenang di danau, setelah beberapa kali pernah menelan korban. Selain itu, menjaga kebersihan dengan mengumpulkan kembali sampah- sampah plastik yang dibawa, akan lebih menghormati keindaha alam dan menjaga kelestarian hutan.

loading...