Laporan Kronologi Satpol PP Bone Dianggap Tidak Obyektif

BERBAGI

MAKASSAR, SULSELEKSPRES.COM – Ketua Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Bone, Andi Takdir mengaku keberatan dengan Laporan Kronologi peristiwa penganiayaan terhadap dirinya yang dikeluarkan oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Bone. Sabab laporan itu tidak objektif dalam menjabarkan kronologis.

Sebelumnya, Takdir dianiaya sejumlah oknum Satpol PP Bone di Lapangan Merdeka Watampone, pada Sabtu malam, 23 Desember 2017. Kejadian ini bermula saat Satpol PP hendak membubarkan sebuah latihan breakdance yang dilakukan salah satu komunitas pemuda di Bone.

Takdir mengatakan laporan kronologi yang dikeluarkan Satpol PP per tanggal 24 Desember 2017 itu tidak objektif, malah ada yang tidak benar. Terutama tidak menjabarkan urutan kejadian saat anggota Satpol PP melakukan penganiayaan terhadap dirinya, setelah petugas itu menegur sekelompok pemuda yang berlatih breakdance di sudut pelataran air mancur Lapangan Merdeka.

Takdir yang juga penyandang disabilitas atau difabel daksa kinetik ini mengakui bila sejumlah Satpol PP menegur aktivitas pemuda itu sebanyak dua kali. Teguran pertama, komunitas breakdance itu menghentikan aktivitasnya. Tak cukup 5 menit, aksi mereka kembali dilanjutkan.

“Saya suruh lagi lanjutkan, karena anggapan saya tidak ada aturan yang mengatur kalau dilarang latihan disitu, ” kata Takdir dalam rilisnya diterima sulselekspres.com, Kamis (4/1/2018).

Menurutnya tidak ada larangan untuk melakukan aktivitas di Lapangan Merdeka, sebab, kata dia, itu adalah wilayah publik. Artinya warga berhak untuk berada di dalam Lapangan Merdeka.

“Saya sempat tanya kepada mereka pada malam itu, mana aturan soal larang melakukan aktivitas di sini. Tapi mereka tidak bisa menjelaskan,” jelasnya.

Takdir juga keberatan dengan anggapan bahwa dirinya mengeluarkan kata-kata tak sepantasnya. Ia pun mempertanyakan seperti apa ucapannya yang dimaksudkan oleh Satpol PP sebagai kata-kata tak sepantasnya.

“Saya juga bingung yang mana yang mereka maksud kata-kata yang tidak sepantasnya. Karena sedikitpun tidak ada kata-kata, maaf, kata kotor saya lontarkan, hanya intonasi bahasaku yang mungkin agak tinggi waktu itu, saya mengatakan: ahh lanjutkan saja, ”

Yang paling disayangkan, kata dia, dalam kronologi disebut Komandan Operasi, yakni
Kepala Seksi Ketentraman dan Ketertiban (Trantib), Andi Baharuddin mengingatkan kepada anggotanya untuk tidak terpancing, namun justru Andi Baharuddin yang memulai penganiayaan kepada Takdir hingga petugas lainnya ada yang memiting lehernya.

“Ada juga statement mereka yang mengatakan kalau pimpinannya menyampaikan agar anggotanya tidak terpancing. Padahal jelas-jelas dalam video kalau pimpinannyalah yang memulai penganiayaan kepadaku, ” tegasnya.

Ketidak objektifan selanjutnya dalam laporan itu, bahwa pada saat Takdir dikepung Satpol PP, dirinya dianggap tidak bersama dengan anaknya yang masih berusia empat tahun.

“Ada statemennya mengatakan saya tidak bersama anak saya, padahal jelas-jelas anak saya ada di samping saya, ” bebernya.

Menurutnya, sebelum Satpol PP mengerumuni, Takdir sedang memeluk anaknya. Saat makin terdesak karena petugas maju mendekatinya, anaknya terlepas dari pelukannya. “Waktu awal mereka datang anak saya peluk. Setelah mereka merapat anak saya menghindar ke samping saya, ”

Saat itulah terjadi insiden pemukulan yang tidak dijabarkan dalam kronoligi Satpol PP. “Saat saya dipukul anak saya ada di belakang saya. Itu terekam dalam video yang banyak tersebar, ” kata dia.

Diketahui kasus ini sudah bergulir di Polres Bone dan polisi sudah menetapkan lima tersangka, masing masing, Andi Baharuddin (Kasi Trantib), Andi Saharifuddin (Kasi Pengawasan Penegakan Perda), Andi Ahmad Aminuddin (honorer), Andi Adhar (honorer) dan Faisal (honorer).

Meski sudah ditetapkan tersangka, Takdir mendapat berbagai teror dan intimidasi dari berbagai oknum untuk meminta kasus itu dihentikan. Namun dirinya bersikeras melanjutkan kasus itu hingga ada vonis di pengadilan.

Berikut Laporan Kronologis Satpol PP yang berhasil didapatkan wartawan:

Pada hari Sabtu tanggal 23 Desember 2017 pukul 20.36 bertempat di lapangan Merdeka kami melaksanakan tugas Pengamanan menjelang Natal dan Tahun Baru sekaligus melakukan Pengendalian terhadap gangguan ketertiban Umum dan Ketentraman Masyarakat berdasarkan PERDA Kabupaten Bone Nomor 13 Tahun 2016 tentang Keterbitan Umum dan Ketentraman Masyarakat

Pada Waktu kami melakukan monitoring/pemantauan di Lapangan Merdeka. Kami menemukan kegiatan melanggar PERDA Nomor 13 Tahun 2016 tentang Keterbitan Umum dan Ketentraman Masyarakat yaitu sebagai berikut:

Ada sekelompok pemuda melakukan kegiatan breakdance di Pelataran Air Mancur dimana lokasi ini tidak diperbolehkan untuk melakukan kegiatan seperti ini dan memang masyarakat dilarang berda didalam pelatan air mancur ini karena sangat berbahaya disebabkan memiliki tegangan listrik yang sangat tinggi disamping itu kegiatan seperti ini bisa saja merusak fasilitas yang ada didalamnya seperti Lampu Sorot Air Mancur. Hal ini merupakan Palanggaran terhadap PERDA Nomor 13 Tahun 2016 pasal 12 point (a) yang menyatakan bahwa setiap orang atau badan dilarang memasuki atau berada dijalur hijau atau taman yang bukan untuk umum, kecuali untuk kepentingan dinas.

Selanjutnya point (b) menyatakan bahwa Setiap Orang atau Badan dilarang melakukan perbuatan yang dapat merusak dan mengotori jalur hijau, taman dan tempat umum beserta kelengkapannya.

Demikian pula dengan melakukan kegiatan breakdance di lokasi air mancur ini maka kenyamanan masyarakat untuk menikmati keindahan air mancur menjadi terganggu. Hal ini yang membuat kami harus menegur kepada sekelompok pemuda ini untuk menghentikan kegiatannya dan mengarahkan kepada mereka untuk melakukan kegiatan tersebut ditengah lapangan karena lokasi itu lebih layak untuk melakukan kegiatan tersebut karena tidak menimbulkan gangguan kenyamanan masyarakat dalam menikmati fasilitas di lapangan merdeka.

Setelah kami tegur, sekelompok pemuda ini berhenti melaksanakan aktifitasnya. Berselang 10 menit kemudian, mereka melakukan aktifitasnya kembali kamipun harus menegur untuk kedua kalinya. Pada saat kami menegur, tiba-tiba da seseorang di lokasi tersebut yang bernama ANDI TAKDIR memprovokasi pemuda tersebut untuk tetap melanjutkan aktifitasnya.

Kamipun menegur Andi Takdir kerena sudah mengganggu jalannya operasi kami tetapi bukannya menerima malah semakin memancing emosi aparat dengan mengeluarkan kata-kata yang tidak sepantasnya.

Komandan Operasi mengingatkan untuk tidak terpancing melakukan tindakan yang berdampak hukum. Tapi semakin lama semakin banyak bicaranya dan semakin kurang ajar dalam berkata-kata. Melihat masyarakat yang semakin berkerumun di lokasi kehadian maka saya mengambil inisiatif untuk mengamankan Andi Takdir ini ke POS POLISI yang ada di Lapangan Merdeka.

Dari sinilah kemudian anggota saling dorong untuk membawa Andi takdir karena bersikeras tidak mau diamankan. Pada saat diamankan dia berteriak untuk mencarikan anaknya karena tidak bersama dengan anaknya pada saat kejadian itu.

Setelah anak itu ditemukan kemudian diserahkan kepada Andi Takdir. Dia pun keluar dari area air manur dan selanjutnya pergi dari lapangan merdeka dan situasi pun kembali kondusif.

Tidak berselang lama Bapak Kabag OPS POLRES BONE dan KAPOLSEKTA KOTA datang ke lokasi mempertanyakan kejadian yang terjadi. Dan Setelah dijelaskan oleh Kabid Trantib Satpol PP, beliaupun meninggalkan lokasi kejadian sambil bepesan untuk tetap menjaga situasi dan kondisi keamanan di lapangan merdeka ini.

Demikian laporan ini kami buat dengan sebenarnya sesuai apa yang saya liat dan alami sebagai penanggung jawaban serta mengingat sumpah dan jabatan yang ada.

loading...