Jadi Pergunjingan, Trump Diduga gangguan jiwa

BERBAGI
Trump.(int)

SULSELEKSPRES.COM– Pertanyaan mengenai kondisi kejiwaan Donald Trump telah beredar beberapa saat setelah dia dilantik menjadi presiden Amerika Serikat.

Pertanyaan tersebut kembali mengemuka seiring diluncurkannya buku berjudul Fire and Fury: Inside the Trump White House karya jurnalis Michael Wolff.

Buku itu, yang keakuratannya disangsikan Gedung Putih dan dipertanyakan sejumlah pihak, menggambarkan Trump sebagai sosok tidak sabar, tidak bisa fokus, mengulang berbagai hal, dan mengoceh tanpa ujung-pangkal.

Trump mengecam penggambaran yang dibuat Wolff dalam bukunya. Lewat Twitter dia mengklaim dirinya sebagai “jenius yang sangat stabil” serta memiliki “dua aset terbesar yakni mental yang stabil dan sangat pintar”.

Bantahan Trump dan gaya berbicaranya justru mendorong khalayak semakin menggunjingkan kondisi kejiwaannya. Ada yang menduga sang presiden mengidap Alzheimer hingga kepribadian narsistis.

Apakah kondisi kejiwaan Trump sudah pernah dibahas?

Seperti dilansir BBC Indonesia, beberapa psikolog sebelumnya telah berspekulasi mengenai gejala-gejala kelainan jiwa yang mereka klaim ada pada perilaku Trump.

Ada sejumlah buku yang membahas topik tersebut setelah Trump dilantik, seperti The Dangerous Case of Donald Trump karya Bandy X Lee, Twilight of American Sanity karya Allen Frances, serta Fantasyland karya Kurt Andersen.

Bandy X Lee, selaku profesor bidang psikiatri dari Universitas Yale, mengatakan kepada sekelompok senator yang sebagian besar dari Partai Demokrat bahwa gangguan jiwa Trump “akan terungkap dan kita tengah melihat gejala-gejalanya”.

Meski demikian, perlu diingat bahwa para penulis buku ini, termasuk Lee, belum pernah menangani Trump dan tidak pernah memeriksa kejiwaan Trump secara pribadi.

Kalaupun ada yang menangani Trump secara langsung, sosok itu akan terikat dengan standar etika serta undang-undang federal untuk tidak membeberkan kondisi pasien.

Mengapa kondisi kejiwaan Trump penting?

Jika Trump mengalami gangguan jiwa, dia bisa dilengserkan dari jabatannya sebagai presiden.

Sebagaimana dikemukakan dalam amandemen ke-25 pada Konstitusi AS, jika presiden dinilai “tidak sanggup menjalankan tugas dan kewenangannya”, wakil presiden akan mengambil alih. Untuk melakukannya, kabinet Trump dan Wakil Presiden Mike Pence harus memulai proses pengambilalihan tersebut.

Namun, saat ini tidak ada tanda-tanda proses itu hendak dijalankan.

loading...