Anak- Anak Pencari Suaka, Bermainpun Dilarang

BERBAGI
Portrait Abdullrahman di depan spanduk "we don't believe in violence"/ SULSELEKSPRES.COM/ AGUS MAWAN

MAKASSAR, SULSELEKSPRES.COM – Barangkali dalam benak anak- anak belum paham dengan apa yang sedang dilakoni saat ini. Terusir dari negaranya di Sudan, dan mencari suaka hingga Indonesia, khususnya di Makassar.

Wajah- wajah lugu itu mengikuti orang tua mereka pada Rabu (21/2/2018), pukul 09.00 Wita hingga 12.00 Wita, saat menggelar aksi di depan Menara Bosowa, Jalan Jenderal Sudirman, Makassar. Mereka adalah pengungsi asal Timur tengah.

Di barisan terdepan, dengan memegang poster tuntutan, Nargis (9), Fatimah (5) asal Afganistan beserta teman-temannya yang lain tampil penuh semangat, meski barangkali tidak paham dengan kemelut yang dihadapi orang dewasa. Tentang kewarganegaraan, kebebesan, dan juga suaka.

Diantara belasan anak, ada Abdulrahman (10) seorang anak dari sepasang suami isteri Nasim Mohammad (37) Abdullah Abdullrahman (40) asal Sudan, Afrika Utara.

Empat tahun lalu, perang berkecamuk di negaranya yang akhirnya memaksa Abdulrahman bersama kedua orang tuanya beserta tiga saudaranya bertolak dari negaranya melintasi samudera hindia mencari tempat yang aman bagi keluarganya.

Tahun 2014, Abdulrahman tiba di Bogor, Jawa Barat. Namun, beberapa bulan kemudian, dirinya dipindahkan ke Kota Makassar lalu menempati Hotel Mahkota, di Jalan Ince Nurdin.

Hingga kini, Abdulrahman bersama keluarganya hidup di Hotel Nugraha, Jalan Dg. Tata 1. Setelah dipindahkan dari tempat sebelumnya.

Terkait pengekangan yang selama ini ia alami, Abdullrahman menyatakan kekesalannya karena tiap ia berkehendak untuk keluar hanya sekedar bermain dengan teman-temannya, pastinya kerap tidak diberikan izin oleh petugas ditempat.

“Di hotel saya itu, harus minta izin dulu misalnya, kalau mau jalan-jalan. Kalau di hotel lainnya(hotel pengungsi yang lain) itu, tidak boleh keluar kamar, (itu-)salah,” ungkap Abdull.

Tidak hanya itu, kesan pengekangan juga ia rasa sewaktu beberapa tahun yang lalu saat menempuh pendidikan dasar di sekolah.

“Dulu sekolah, tapi sekolahnya juga guru-gurunya jahat-jahat, tidak baik, jadi yang begitu saya tidak suka”tegasnya.

Abdulrahman adalah anak kedua, dari empat bersaudara. Kakaknya bernama Abdulazim Abdullah (13) sementara adiknya bernama Mohammad Abdullah (9) dan satu adiknya lagi, Abdulillah Abdullah yang masih berumur enam tahun.

Sewaktu di sudan, keluarganya hidup dari hasil penjualan ‘bejun’ dan gula yang dilakoni oleh bapaknya.

“Jual sama sugar, sama ‘bejumlah'”jelas Ayah Abdullrahman.

Namun kini, walaupun awal tahun 2015, beberapa kelompok swasta bersama pemangku kepentingan telah menemukan terobosan guna menyiapkan bekal bagi pencari suaka memasuki pasar tenaga kerja di negara baru. Ayahnya mengaku tiap harinya, ia menjadi seorang yang tidak produktif.

“Tidak kerja, saya duduk di rumah, tidak kerja, tidak jalan-jalan, tidak.. tidak.. semuanya,” ungkapnya.

Untungnya, semua kebutuhan bahan makanan mentah didanai oleh International Organisation for Migration (IOM) sebesar Rp 500.000/bulan.

Namun, bagi Ayahnya, uang sebesar itu tidak mampu mencukupi kebutuhan keluarganya, apalagi bila ditambah dengan keperluan anak bungsunya yang relatif sangat muda.

Bagi Ayah Abdulrahman, apabila manusia hanya makan dan tidur itu tidak baik. Ia menginginkan kehidupannya seperti waktu ia di negara asalnya.

“I want to live (saya ingin hidup), I want to work for give money (saya ingin bekerja untuk memberikan uang), I give money for my family (memberikan uang kepada keluarga saya), it makes me stress (ini membuat saya stres),” jelasnya sambil meragakan bagaimana ekspresi seorang yang sedang stres.

Akibatnya, waktu itu ia mesti mengonsumsi obat tidur lantaran saat di malam hari, dirinya sangat susah untuk tidur.

Hingga kini, selama memasuki lima tahun hidup sebagai pencari suaka di Kota Anging Mammiri sebagai negara Transit, Abdullrahman bersama keluarganya hanya mampu menanti kepastian kepindahannya ke negara ke tiga sembari dibayang-bayangi oleh kontrol penub yang represif dari beberapa oknum petugas, dari diintai, persekusi, hingga jika kelewatan batas, hantaman fisik dan jeruji besi akan menantinya.

Inilah kisah kehidupan salah satu keluarga para pengungsi WNA dari jumlah dua ribuan pencari suaka lainnya yang hidup di kota ini.

“We don’t believe in Violence” sekalimat yang terpampang di spanduk aksi mereka ini tertuju kepada oknum petugas yang diduga tak segan-segan memukul para pengungsi yang melakukan pelanggaran.

Penulis : Agus Mawan

loading...