Kekerasan Terhadap Agamawan di Jatim, Moeldoko: Ini Model Lama

BERBAGI
Mantan Panglima TNI, Jenderal TNI (Purnawirawan) Moeldoko. Foto: Agus Mawan

MAKASSAR, SULSELEKSPRES.COM – Mantan Panglima TNI, Jenderal TNI (Purnawirawan) Moeldoko membantah adanya orang lama yang terlibat sebagai aktor dibalik kasus kekerasan yang menargetkan Ulama di Jawa Timur.

Hal tersebut diungkapkan oleh Moeldoko yang kini menjabat sebagai Kepala Staf Kepresidenan, setelah mengisi acara dialog mahasiswa yang diadakan oleh Unhas, di Baruga AP. Pettarani, Jalan Tamalanrea, pada Selasa (27/2/2018).

“Itu model lama yang sudah lama dikenali. Hanya yang perlu didalami, siapa yang dibelakangnya itu. Tapi modusnya itu, modus peran yang lama dan sering dilakukan pada tahun ’97 mau pun setelah itu,”ungkap Moeldoko.

BACA: Anggota Brimob Tewas Dikeroyok Saat lerai Percekcokan

Moeldoko mengaku pengungkapan Insiden kekerasan yang menimpa beberapa tokoh ulama di Indonesia, hanya tinggal menunggu waktu untuk mengungkap siapa-siapa saja yang terlibat.

Selain itu, ia menambahkan, pengungkapan dalang aktor politik kekerasan ini akan mudah sebab bertautan dengan momentum tahun 2018 sebagai ajang politik.

“Jadi sangat mudah dikenali dan tujuannya untuk apa, terus manfaat yang dia inginkan dan seterusnya. Dan sekarang kita mencari, siapa yang sebenarnya dibelakang,” terang Moeldoko.

Seperti dilansir dari berbagai sumber, tercatat bahwa kekerasan terhadap ulama serta Politisasi Sara yang terjadi di Indonesia sedikitnya tercatat lima kasus.

Penyerangan pertama terjadi pada Sabtu (27/1/2018), yang menimpa pimpinan Pesantren Al Hidayah, KH Umar Basri bin Sukrowi, di Cicalengka, Bandung, Jawa Barat. Ia dianiaya seorang pria yang diduga mengalami gangguan jiwa.

Tak berselang lama, pada bulan berikutnya, Insiden yang sama menimpa tokoh Persatuan Islam Indonesia (Persis), HR Prawoto, yang menyebabkan Ia meninggal dunia di rumah sakit setelah diduga dianiaya seseorang yang mengalami gangguan jiwa.

Selanjutnya hanya beberapa minggu, penyerangan terjadi kembali, di Gereja Santa Lidwina, Sleman, Yogyakarta pada (11/2/2018) lalu. Yang berimpak terhadap Sejumlah jemaat, tokoh agama, dan petugas kepolisian.

Selain itu, kasus penyerangan rumah ibadah juga tetjadi di Tuban, Jawa Timur, oleh seorang pria yang belakangan diketahui mengalami gangguan kejiwaan. Penyerangan tersebut dilatar belakangi peneguran terhadap pelaku yang mendiami Masjid hingga dini hari bersama keluarganya.

Terbaru, seorang kyai di Lamongan, Jawa Timur, sekali lagi diserang oleh pelaku yang memiliki keterbalakangan mental. Korban sempat menegur pria tersebut agar tidak makan di pendopo pesantren. Namun, pelaku justru menantang dan mendorong korban hingga jatuh.

Melihat sequel kejadian ini, Moeldoko menganggap, biasanya pada menjelang pemilu, politik yang menlegitimasi kekerasan tersebut biasanya kerap terjadi.

“Bisa saja menjadi ambisi-ambisi lain dengan melakukan segala cara. Karena ini menjelang pemilu dan pemilukada,” tutup Moeldoko.

Penulis : Agus Mawan

loading...