Sebarkan Prodak Hukum, H Muslim Salam Jelaskan Dampak Lahan Kritis

BERBAGI

MAROS, SULSELEKSPRES.COM– Anggota Komisi D DPRD Sulsel, H Muslim Salam kembali melakukan penyebar luasan serta sosialisasi produk hukum yang dikemas dalam dialog dan tatap muka secara langsung dengan warga Kampung Kassi Kelurahan Pettuadae, Kecamatan Turikale, Kabupaten Maros, pada Selasa (27/2/2018).

Dalam pemaparannya, Ketua Fraksi NasDem DPRD Sulsel ini menjelaskan, bahwa fungsi lingkungan yang sudah mengalami pencemaran akan menurun. Apabila keadaan ini dibiarkan saja dan tidak diperbaiki maka usaha untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk akan terganggu, lingkungan akan rusak, berkurang, atau tidak lagi menunjang pembangunan.

Akibatnya tidak hanya dirasakan sekarang, tetapi juga akan dirasakan generasi akan datang, karena lahan kritis, tidak diupayakan perbaikannya. Lahan kritis tidak dapat menunjang pembangunan yang berkesinambungan. Oleh karena itu, perlu dilakukan perbaikan dan pencegahan.

“Perwujudan lahan kritis akibat kesalahan manusia, misalnya: penebangan hutan secara besar-besaran, peladangan berpindah-pindah
kebakaran hutan, dan perusakan hutan lindung (tanah menjadi terbuka),”ujarnya.

Menurut H Muslim Salam, hal tersebut telah tertuang dalam Perda yang disosialisasikannya tepatnya berada pada BAB IV Pencegahan dan Pemulihan Lahan Kritis. Dalam bunyi Pasal 9 yakni pencegahan dikatakannya, bahwa;

(1) Setiap orang yang memanfaatkan lahan wajib menerapkan teknik konservasi tanah dan air.

(2) Teknologi konservasi tanah dan air sebagaimana dimaksud pada ayat berupa metode vegetatif dan teknik konservasi tanah dan air.

(3) Lahan di dalam kawasan hutan dengan kemiringan lebih besar dari 40% (empat puluh persen) dilarang untuk kegiatan budidaya tanaman semusim.

(4) Lahan di luar kawasan hutan dengan kemiringan lebih besar dari 60% (enam puluh persen) dilarang untuk kegiatan budidaya tanaman semusim.

Upaya penanggulangannya dan pemulihan, antara lain dapat dilakukan dengan cara berikut. Seperti di Pasal 10 yakni Pemulihan Lahan Kritis dikatakannya bahwa:

(1) Pemulihan lahan kritis dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan semua sektor dan pemangku kepentingan terkait
(2) Pemulihan lahan kritis dilaksanakan dengan metode vegetatif, sipil teknis dan agronomi.
(3) Metode vegetatif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan penanaman kayu-kayuan, tanaman multiguna, tanaman perdu/rumput dan tanaman penutup tanah lainnya.

Metode sipil teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berupa pembuatan: sengkedan, teras guludan dan pengendali jurang.

Sementara itu, sekira ratusan warga yang hadir dalam dialog tersebut berharap melalui DPRD Sulsel, Pemerintah Daerah dapat memfasilitasi warga dalam melaksanakan pemulihan lahan kritis dengan menyediakan bibit pohon dan fasilitas lainnya.(*)

loading...