Psikolog Politik UNM Nilai Jokowi Butuh Pendamping Kuat Dalam Basis Muslim

BERBAGI
Muhammad Rhesa, Pengamat psikologi politik UNM/ IST

MAKASSAR, SULSELEKSPRES.COM – Pilkada serentak 2018 terhitung beberapa hari lagi, tak menampik dari pilkada, pilpres pun semakin dekat.

Tahun 2019, kosong satu Republik ini bakal terganti atau tetap dipertahankan incumbent Joko Widodo.

Hal menarik menurut Muhammad Rhesa, Pengamat psikologi politik UNM ini, memetakan banyaknya figur yang bermunculan untuk mendampingi Joko Widodo.

Dalam kondisi perpolitikan indonesia sekarang, jokowi butuh pendamping yang kuat dalam basis muslim, untuk menetralisir isu identitas agama yang sedang mengemuka. Dari basis Agama ada tokoh potensial sebut saja Cak Imin dan atau Gus Romi” Ungkap pengamat psikologi Universitas Negeri Makassar ini.

Namun jokowi banyak pilihan, ada juga representasi Nasionalis yang bisa mendekat, misal tokoh dari partai Demokrat. Sinyal politik yang ditunjukkan SBY bahwa Demokrat dan PDIP tidak lagi berada di kutub yang berbeda. AHY bisa menjadi salah satu pendamping jokowi di 2019 nanti jika membutuhkan sosok yang moderat dan millenials.

Lebih jauh ia menjelaskan, kecil kemungkinan lahirnya poros baru, sebab Demokrat sebagai salah satu partai besar sampai saat ini belum pasang kuda-kuda untuk memimpin poros ketiga.

Representasi Nasionalis berikutnya adalah Anies Basweedan, Anis Baswedan punya kekuatan secara figur dan sah secara konstitusi namun tidak sehat dalam membangun mental Demokrasi warga. DKI akan mendapat stigma sebagai batu loncatan. Belum lagi, Anies mesti loncat dari Gerindra jika ingin menjadi pendamping Jokowi.

Berbeda halnya dengan pentolan PKS, Anies Matta. Sosok AM dianggap masih lemah, kefigurannya belum sepopuler dengan tokoh yang lainnya yang bakal menempati elite di negeri ini.
Di tahun politik ini, semua tokoh sudah harus selesai di aspek kefiguran, sudah waktunya bertarung.

Penulis: Andika

loading...