Program Kredit Usaha Tanpa Bunga dan Jaminan NH-Aziz, Realistiskah?

BERBAGI
Pasangan Nurdin Halid-Aziz Qahhar (NH-Aziz)

WAJO, SULSELEKSPRES.COM – Program kredit usaha tanpa bunga dan jaminan dijanjikan Nurdin Halid-Aziz Qahar (NH-Aziz) ketika dirinya terpilih di Pilgub Sulsel mendatang.

Program ini menjadi bagian dari sekian program unggulannya. Nurdin Halid mencetuskan program ini sebagai bagian dari upayanya menciptakan pemerataan ekonomi dan pembangunan di Sulsel.

Baca Juga:

Sinyal SYL Pindah Partai Sudah Terlihat Sejak Nurdin Halid Pimpin Golkar

Jejak SYL: Pimpin Golkar Dibantu Nurdin Halid, Pindah Partai Karena Nurdin

SYL Dua Periode Memimpin, NH Nilai Sulsel Kode Merah

“Ini untuk menciptakan pemerataan ekonomi dan pembangunan. Berusaha mendorong agar usaha kecil dan menengah tumbuh untuk mengakselerasi perekonomian daerah,” kata Nurdin Halid saat melakukan kampanye tatap muka dan dialogis di Kabupaten Wajo, Minggu, 25 Maret.

Konsep NH Aziz

Sebelumnya, Nurdin secara tegas menguraikan kalau program ini bukan cuma janji semata yang tak bisa direalisasikan.

“Kalau saya jadi gubernur, pengusaha tidak perlu susah mencari modal. Tidak harus ke bank untuk pinjam, itu karena saya siapkan modal kerja tanpa bunga dan tanpa jaminan. Ada yang katakan saya berbohong soal itu, mereka itu yang tidak tahu saya rajanya ekonomi rakyat,” kata NH, dalam kampanye tatap muka dan dialogis di Kabupaten Bone, Jumat (2/3/2018) lalu.

Latar belakangnya sebagai tokoh dan praktisi ekonomi kerakyatan, NH menuturkan membuatnya paham soal skema pembiayaan. Pengalaman memimpin 37 anggota koperasi lingkup Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) ditambah statusnya selaku Wakil Presiden Koperasi Asia Pasifik adalah garansi program itu dapat diwujudkan.

Baca: NH Janji Tidak Libatkan Keluarga di Pemerintahan, Sindir SYL?

NH menuturkan pihaknya akan membangun jaringan dengan pengusaha, baik di tingkat nasional maupun internasional. Belum lagi jaringannya di perbankan luar negeri yang berbasis ekonomi kerakyatan, seperti di Jepang, Malaysia dan Belanda. “Banyak kok jaringan yang bisa membantu memberikan pinjaman modal,” tuturnya.

Lagi pula, NH menuturkan pinjaman tanpa bunga dan tanpa agunan itu hanya ditujukan untuk usaha non-struktural. Pasangan nomor urut satu ingin menjangkau pelaku usaha non-formal yang selama ini kesulitan akses perbankan. Adapun untuk usaha struktural, ada banyak perbankan. Termasuk Bank Sulsel yang ingin dibahnya menjadi bank rakyat.

“Yang struktural, Bank Sulselbar akan saya jadikan bank rakyat. Sekarang ini kan masih sebatas menjadi kasir pemerintah untuk bayar kontraktor yang kerja proyek dan bayar pegawai negeri. Ke depan akan saya ubah menjadi kasir untuk rakyat Sulsel,” ulas NH.

Realistiskah?

Mendapatkan pinjaman uang tanpa bunga tetap bisa didapatkan, tergantung pada siapa seseorang meminjam. Sebab, tempat meminjam uang tidak hanya di bank atau lembaga keuangan. Masih banyak tempat-tempat meminjam uang selain bank yang bisa digunakan sebagai tempat meminjam.

Hanya saja, untuk mendapatkan modal pinjaman tetap mesti ada jaminan yang diberikan kepada lembaga pemberi modal. Sebut saja misalnya pegadaiaan.

Pemberi pinjaman tanpa bunga adalah menggunakan jasa PT. Pegadaian. Sebagai perusahaan milik pemerintah dan institusi gadai paling dikenal, Pegadaian dapat digunakan sebagai tempat peminjaman tanpa bunga, hanya saja tetap wajib ada jaminan. Di pegadaian, sistem yang berlaku adalah sewa modal, bukan bunga. Selain itu, pegadaian hanya memberikan biaya administrasi. Sistem sewa modal ini dihitung setiap 15 hari sebanyak 1,15%. Jika peminjam mengembalikan dana kurang dari 15 hari, sewa modalnya semakin rendah.

Baca: Nurdin Halid Rancang Program Masjid, IYL Tolak Politisasi Tempat Ibadah

Seseorang bisa mendapatkan pinjaman untuk menutupi kebutuhan keuangan. Nilai pinjaman yang diterima pun bergantung pada nilai taksir dari jaminan yang akan diberikan kepada pegadaian.

Mendapatkan pinjaman tanpa bunga dan jaminan mungkin bisa didapatkan jika meminjam uang dari kerabat dekat.

Resiko

Mendapatkan uang dari hasil pinjaman bukan tanpa resiko peminjam dan pemberi pinjaman. Terlebih jika uang pinjaman didapatkan memang tanpa jaminan.

Dilansir dari HaloMoney.co.id, berikut ini adalah gambaran tentang risiko kredit yang mesti diketahui jika mendapatkan uang dari hasil pinjaman.

Risiko Kredit Bagi Pemberi Pinjaman

Pemberi pinjaman tentu dibayangi sebuah resiko besar akan kerugian akibat peminjam gagal bayar. Secara umum, risiko kredit yang akan dihadapi oleh pihak pemberi pinjaman karena memberi pinjaman tanpa jaminan dan tanpa bunga adalah pemberi pinjaman tersebut bisa mengalami kesulitan keuangan jika penerima pinjaman tidak lancar membayar.

Sebab itu kadang pinjaman tanpa bunga membutuhkan jaminan. Jaminan itu gunanya sebagai proteksi bagi pemberi pinjaman jika di masa depan si peminjam mengalami gagal bayar. Sedangkan jaminan tersebut gunanya agar penerima pinjaman rutin membayar dan bisa mengelola keuangan.

Jika kamu meminjam dari bank atau lembaga keuangan syariah, jika kamu gagal bayar, lembaga keuangan tersebut akan terkena peringatan dari Otoritas Jasa Keuangan akibat NPL atau non performing loan naik. Jika lembaga keuangan tersebut telah mencatatkan sahamnya di bursa efek atau go public, kenaikan NPL ini bisa membuat harga saham lembaga keuangan tersebut turun, bahkan jatuh. Risiko kredit seperti ini tentu sangat tidak menyenangkan.

Risiko Kredit Bagi Peminjam

Risiko kredit juga bisa menimpa peminjam. Jika peminjam mengalami gagal bayar, risiko keuangan segera menghantui peminjam. Antara lain catatan kredit peminjam akan tercatat di bank dan Bank Indonesia sebagai peminjam buruk. Bahkan bisa diblacklist sehingga di kemudian hari si peminjam sulit mendapatkan pinjaman lagi. Tentu ini jika kamu meminjam dari perbankan, termasuk perbankan syariah.

Jika kamu meminjam kepada keluarga atau teman, si peminjam akan sulit mendapatkan kepercayaan lagi untuk mendapatkan pinjaman di kemudian hari. Konsekuensi lainnya, kamu bisa berurusan dengan debt collector untuk menyelesaikan pinjaman.

Risiko lainnya, pinjaman tanpa bunga berpotensi membuat peminjam menjadi sewenang-wenang. Sehingga lalai untuk mengembalikan pinjaman.

Risiko Pelibatan Pihak Ketiga

Risiko lain yang mesti dipikirakan adalah pelibatan pihak ketiga. Pihak ketiga ini nantinya bisa saja diminta oleh pemberi pinjaman untuk memastikan pengembalian dana yang telah dipinjamkan.

Bila suatu saat nanti salah satu saja di antara mereka yang risiko kreditnya sudah di ambang batas toleransi, maka proyek atau usaha yang dikerjakan pihak ketiga dapat berhenti di tengah jalan dan mereka akan menderita kerugian yang besar pula. Risiko kredit pihak ketiga juga melekat pada tidak adanya bunga pada pinjaman, mengingat dari bunga itulah mereka memperoleh sumber pendapatan, yang selanjutnya menjadi salah satu dasar berlanjut atau tidaknya kerja sama dengan pemberi pinjaman. Bila risiko kredit terkait bunga ini sudah tidak dapat ditoleransi, maka risikonya adalah putusnya kemitraan yang penting dengan pihak pemberi pinjaman.

Penulis: Abdul Latif

loading...