Prof Rusli, Dokter Bercita- cita Masyarakat Indonesia Hidup Sehat

BERBAGI
Ketua STIKes Mega Rezky Makassar Prof. Dr. dr. H. M. Rusli Ngatimin MPH/ SULSELEKSPRES.COM/ AGUS MAWAN

MAKASSAR, SULSELEKSPRES.COM – Memasuki ruangan kerja yang terletak di lantai satu gedung Rektorat Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Mega Rezky Makassar, Prof. Dr. dr. H. M. Rusli Ngatimin MPH, sedang bekerja memimpin kampus yang terletak di Antang itu.

Bagi Sivitas Akademik Stikes Mega Rezky, pria usia 77 tahun itu dikenal sebagai Profesor yang menjabat sebagai Ketua. Tetapi diluar pagar sana, jauh dari tempat lahirnya, namanya telah banyak dikenal sejak Ia merintis karir pada tahun 1997 silam.

pria kelahiran 17 Juli 1941 ini, memang sejak lahir telah dinisbahkan secercah harapan dari Ayahnya yang berharap pada pria kelahiran maros ini dapat melampaui dirinya.

“Saya lahir di Maros, kemudian dibesarkan di soppeng, dari kelas 1 sampai 2, di Takalala (Soppeng), kemudian kelas dua di Bone dan selanjutnya semuanya di Makassar,” Prof Rusli memulai pembicaraan diantara kami.

“Ayah saya itu kepala sekolah SD, tetapi saya harus hormati sebagai orang tua yang punya cita-cita menginginkan anak-anaknya mendapatkan suatu pendidikan yang jauh lebih baik dari pada dia,” sambungnya.

Dengan kekuatan yang ada, Ayahnya sangat bersemangat menginginkan Rusli ‘kecil’ kala itu jadi Dokter, dan akhirnya pada tahun 1969, Rusli kecil yang dulu, berhasil menyelesaikan masa studinya di Universitas Hasanuddin dan berhasil menyandang profesi Dokter.

Baca juga: Penyatuan STKIP dan STIKes Mega Rezky Makassar Menuju Universitas

Sepertinya, semangat Ayahnya juga mengalir di dalam diri Prof Rusli, melalui tempaannya, empat anaknya meraih pendidikan yang tinggi.

Dia kerap melontarkan gagasan cerdas tentang Kesehatan ini melanjutkan, pada Tahun 1967, dua tahun sebelum gelar dokter disandanginya, dirinya telah menjadi dosen di Universitas Muhammadiyah.

Seperti memutar kembali memori kala itu, Prof. Rusli menceritakan kisahnya pada awal dirinya merintis karir sebagai dosen di perguruan tinggi swasta.

“Awal-awal berdirinya Universitas Muhammadiyah di Rappang, Soppeng, Bone, dan Sinjai. Itu kalau kami pergi ke daerah, berangkat jam 9 pagi dari Makassar, tiba di Sinjai jam 6 sore, kenapa? wah jalanannya luar biasa jeleknya,” selanya sembari tertawa.

Kendati demikian, karena marwah untuk membangun bangsa melalui pendidikan sebagai dosen sangat dijiwainya, berkilo meter jalanan ia libas untuk menebar pendidikan kesehatan.

“Waktu itu juga umur masih cocok, ya artinya alhamdulillah bisa terlaksana dengan baik, dan itu lah yang mendorong saya, dan akhirnya pada tahun 1971 (saya) ditawari menjadi konsultan penyakit cacar di WHO untuk Sulawesi Selatan,” ucapnya.

Disela berprofesi sebagai Dokter, kala itu Ia bergabung dalam kelompok kesehatan masyarakat dan dari situ pula, Prof Rusli melihat kondisi miris kesehatan yang terjadi di Masyarakat.

Menurutnya, jika ingin menaikan taraf kualitas kesehatan masyarakat, itu tidak bakal cukup hanya dengan menggunakan Ilmu Kedokteran saja, diperlukan sebuah insiatif yang serius.

Baca juga: Sekretaris Yayasan Stikes Mega Rezky Apresiasi Mahasiwa Raih Cum Laude

“Kalau secara ilmu kedokteran susah sekali menumbuhkan hidup sehat di Indonesia, kita harus belajar bersama masyarakat dalam mengajak masyarakat untuk hidup sehat,” ungkapnya.

Sangat disesalkan menurutnya, bahwa sedari dulu masyarakat Sulawesi Selatan telah mempunyai nilai sehat didalam budayanya, namun tidak digunakan. Contohnya banyak yang tidak tahu apa arti dari ‘macengke-cengke mukki’.

“Itulah konsep orang Bugis kalau bertemu orang yang lama sudah tidak ketemu, macengke-cengke mukki artinya, apakah Anda sehat-sehat? bukan bertanya berapa kekayaanmu, tapi kesehatan yang dia tanyakan,” ucapnya dengan penuh semangat.

“Berarti dalam pola sehat, pola budaya Bugis terdapat pola sehat,” ringkasnya.

Dari kerangka pemikiran tersebut, Kakek dari delapan cucu ini menjadikan dasar dari penyusunan disertasinya berjudul “Upaya Menciptakan Masyarakat Sehat di Pedesaan” dan diulas kembali dalam bukunya berjudul “Hidup Sehat Berorientasi Antropologi Kesehatan”.

Menurut Prof Rusli, terdapat periodisasi hidup sehat yang dilalui Masyarakat Indonesia, khususnya Masyarakat Sulawesi Selatan. Era ke-Setan-an menuju Era ke-Sehat-an.

“Kalau dulu orang muntah-berak meninggal, orang dulu bilang kalau itu karena Parakang (Manusia Jadi-jadian), di hisap Parakang, nah kalau sekarang orang mati muntah-berak karena apa? kurang cairan (dehidrasi),” tegasnya.

“Tetapi dalam ilmu kesehatan ditemui bahwa Parakang itu tidak ada, hanya dalam khayalan budaya yang namanya mitos (Mitologi). Maka dibuktikan bahwa meninggal akibat muntah berak itu karena dehidrasi,” ringkasnya.

Baca juga: Pembina Yayasan Stikes Mega Rezky Ajak Mahasiswa Kritis Tanpa Aksi Demo

Gagasan itu, telah disebarnya ke negeri-negeri orang luar, Amerika, Belanda, Jepang, Australia, Filipina hingga di Montreal, Kanada. Baik di berbagai pertemuan Internasional atau hanya pertemuan yang mengundang dirinya sebagai pembicara tunggal.

Dibalik usaha kerasnya, tak luput kehadiran dan dorongan setia dari sang Istri, Hj. Sardinah Dg Ngai, perempuan berdarah Kalosi-Enrekang yang setia menemani dirinya berkeliling di Negara luar sebagai tamu kehormatan.

Bak kuncup bunga sakura yang mekarnya dinanti di tanah Jepang, Prof Rusli dengan gagasannya di bidang kesehatan, akhirnya diundang di Saga University sebagai tamu yang dinanti atas utang budi Jepang pada tahun 1997.

“Saya diundang oleh Saga University, itu diundang sebagai tamu kehormatan karena membantu penilitiannya di Indonesia, mereka meniliti tentang nyamuk dan lalat,” katanya.

“Karena merasa berutang budi, selama sepuluh hari, saya diajak berjalan di lima kota di jepang, di Fukuoka, Tokyo dan empat kota yang lain,” sambungnya.

Waktu itu, Ibu Sardinah awalnya ogah mendampingi, namun Prof Rusli mengatakan pada istrinya, bahwa kesempatan ini tidak datang untuk kedua kalinya.

Sebelum menjabat sebagai Ketua Stikes Mega Rezky, melanjutkan DR. dr. H. Dwi Djoko Purnomo, MPH yang kini tengah menjabat sebagai Direktur RS. Ibnu Sina, sebagai Guru Besar FKM Unhas, ia mengaku lebih dikenal sebagai Antropolog ketimbang Dokter.

“Saya aslinya dokter, tetapi lebih dikenal sebagai Antropolog kesehatan. Tahun 2001 saya diundang oleh Leiden University di Belanda, itu sebagai Antropolog Indonesia untuk menjelaskan tentang hidup sehat di Indonesia,” akunya.

Sebagai seorang yang telah memimpin Universitas Indonesia Timur (UIT) ini, baginya kesehatan itu berawal dari adanya kesadaran (Awareness) untuk mengubah pola buruk kesehatannya. Ketika telah sadar, akan timbul ketertarikan (Interest) untuk berubah.

Setelah masyarakat yang telah diajak sampai pada tingkat tertarik, pastinya ia akan mempertimbangkan, jika hasil evaluasinya menghasilkan positif, masyarakat tentu akan mencobanya dan dari itulah budaya pola sehat dapat terjadi.

“Bila memang apa yang ditawarkan dicoba dan sesuai harapan, maka tawaran itu akan diadopsi masyarakat,” tegas Prof Rusli.

Memang menurutnya, kesadaran akan hidup sehat sangat sulit, namun ia yakin pada nantinya Masyarakat Indonesia akan hidup sehat dengan berlandaskan pola kebiasaan.

Selain itu, kesehatan dan kualitas pemikiran seseorang menurutnya memang adalah keselarasan, yang tentunya akan berbeda pula apabila keduanya jatuh merosot. Pola Hidup sehat selain kesadaran, juga mesti didukung kualitas pendidikan yang diterima masyarakat.

Baca juga: Stikes Mega Rezky Gandeng Perusahaan Swasta Jepang

“Orang yang pintar dan bijaksana menyesal sebelum berbuat, tetapi orang yang bodoh dan ceroboh menyesali perbuatannya dengan meneteskan air mata, darah pun tidak akan berubah,” ujarnya.

Ditengah jabatan dipundaknya sebagai Ketua Stikes Mega Rezky, Ia telah membawa ketiga program studi (prodi) mendapatkan Akreditasi B, kendati demikian, menurutnya hal itu bukan semata-mata karena dirinya seorang, pencapaian itu melalui perjuangan keras dengan kerja sama antar sivitas akademik.

Sebagai mantan dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Unhas dan Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Uin Alauddin, bagi Prof Rusli, mewujudkan hidup sehat adalah prioritas dalam kehidupan.

“Carilah persamaan, hindari perbedaan, hidup sehat dapat diwujudkan di mana-mana walaupun dengan kreasi yang berbeda-beda, tetapi dicapai dengan mutu yang sama,” tutupnya.

Penulis : Agus Mawan

MAKASSAR, SULSELEKSPRES.COM – Memasuki ruangan kerja yang terletak di lantai satu gedung Rektorat Stikes Mega Rezky, membawa kesejukan dan ketenangan di dalamnya. . . Di tengah hiruk pikuk pekerjaan sebagai pimpinan kampus Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Mega Rezky Makassar, pria paruh baya bernama Prof. Dr. dr. H. M. Rusli Ngatimin MPH, sedang duduk mendalami ketenangannya. . . Mengenakan kemeja lengan pendek yang sewarna dengan tempat duduknya. Sembari menanti kedatangan orang di balik pintu kantornya, dengan raut memancarkan lembar sejarah Indonesia dari sebelum meraih kemerdekaan hingga kini. . . Lanjut baca di sulselekspres.com (klik link di bio) . . @megarezky.id #sulselekspres #megarezky #makassar

A post shared by Sulsel Ekspres (@sulsel_ekspres) on

loading...