Mengenal Lebih Dekat Julia Fitrianingsih, Wakil Ketua 1 Stikes Mega Rezky Makassar

BERBAGI
Wakil Ketua I Bidang Akademik Stikes Mega Rezki Makassar, Ns Julia Fitrianingsih SKep MKes MKep

MAKASSAR, SULSELEKSPRES.COM – 29 tahun silam, disebuah daerah pelosok yang kaya sumber daya mineral, Pomala, Kolaka Sulawesi Tenggara, nampak seorang perempuan kecil tengah bermain, dari selokan penuh ikan, hingga tingginya pohon kelapa habis ia arungi.

Namun tiada yang dapat menyangka, gadis tomboy penuh semangat itu, pada puluhan tahun yang datang dapat meraih kesuksesannya diusia muda.

Kendati keluarga dan tetangganya sempat meragukan anak ini, tetapi dengan optimistis dan dorongan motivasi orang tuanya, kini anak itu sedang menjabat Wakil Ketua I bidang akademik dikampus ternama Ibu Kota Provinsi Sulsel, Stikes Mega Rezky Makassar.

Anak itu bernama Julia Fitrianingsih. Sesuai dengan namanya, perempuan dua anak ini lahir pada 2 Juli 1983 di Pomala, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.

Baca Juga:

Ini Syarat Penerimaan Dosen TIK dan Mikrobiologi di STIKes Mega Rezky

Alumni STIKes Mega Rezky Ini Sukses Launching Buku

Tujuh Proposal Penelitian STIKes Mega Rezky Lolos PDP Ristekdikti

Sewaktu masih hidup dikampung halamannya, Julia dikenal sangat berprestasi, hal ini pula yang membuat dirinya dapat lulus bebas tes di Universitas Indonesia (UI) mengalahkan teman kelasnya di SMAN 1 Antam Pomala waktu itu.

“Waktu SMA saya dapat juara terus dikelas, tiga besar terus, karena itulah saya sendiri yang bebas tes lulus di UI,” terang Juli (6/4/2018)

Enam tahun masa pendidikannya di UI, bagi Juli tidaklah mudah, banyak rintangan yang perlu ia arungi, seperti Juli kecil puluhan tahun lalu saat memanjat pohon.

Wakil Ketua I Bidang Akademik Stikes Mega Rezki Makassar, Ns Julia Fitrianingsih SKep MKes MKep

Dari berpuasa karena uang kiriman yang belum datang hingga meminjam uang disegelintir temannya di asrama, terpaksa ia lakukan untuk tetap bertahan.

“Terkadang uang pas-pasan, yang diberikan orang tua hanya 500 perbulan waktu itu. Jadi saya puasa sampai kiriman datang, tapi kalau belum ada, ya pinjam dari teman, saya pinjam 100 ribu 200 ribu, itu sudah diiritin, ya kadang tidak makan nasi kadang makan mie saja,” ucapnya sambil tersenyum.

Beruntung, pada saat Juli telah mencapai semester enam, ia akhirnya mendapatkan beasiswa dari PT. Djarum.

Sebelum memperoleh biaya beasiswanya, Julia perlu melewati berbagai tes yang ketat, tetapi pada akhirnya Julia akhirnya berhasil lolos. Dari sejak itulah kebutuhan sehari-harinya mulai cukup terpenuhi.

“Di UI itu susah sekali dapat beasiswa, hanya orang yang berprestasi dan pintar yang dapat, dari ribuan mahasiswa UI saya ikut,” tutur Juli.

Baca: Prof Rusli, Dokter Bercita- cita Masyarakat Indonesia Hidup Sehat

“Tapi Alhamdulillah saya satu-satunya dari fakultas keperawatan yang dapat, jadi sejak semeseter enam ke atas ya sudah lumayan enak, keuangan sudah stabil, Bapak juga dapat bantuan dari beasiswa untuk menambah bayar uang SPP, uang penyelesaian studi, wisuda dan seterusnya,” sambungnya.

Memang, bagi Julia hidup rantau mempunyai cerita berharga tersendiri. Hidup jauh dari orang tua sangat susah menurutnya hingga pada awal tahun perkuliahannya, Julia jatuh sakit.

Di semester dua, Julia harus terbaring sakit, lantaran kondisi kesehatannya menurun.

Saat itu, ia merasa putus asa dan memilih untuk menghentikan studinya di UI, walau telah berniat untuk mengajukan surat pemberhentian, beruntung sosok kedua orang tuanya hadir untuk mendorong Julia tetap melanjutkan studinya.

Baca: STIKes Mega Rezky Makassar Gelar Road show “Sulsel Sehat, Generasi Muda Anti Narkoba”

“Orang tua memberikan motivasi, jangan keluar, sayang sudah jauh, tahan sedikit lagi, dan teman-teman yang support dari belakang yang dari berbagai daerah itu, akhirnya saya tetap bertahan,” tuturnya.

Setahun berikutnya Julia kembali sakit, “Semester empat sakit lagi, ingin keluar lagi, tapi tetap dimotivasi teman dan orang tua, akhirnya selesai saya sampai sarjana,” imbuhnya.

Ns Julia Fitrianingsih SKep MKes MKep

Bagi Julia, ada kebahagiaan sendiri, karena berangkat dari keluarga yang biasa, kemudian hidup selama enam tahun di Ibu Kota jauh dari belaian kasih seorang Ibu dan Ayah.

“Karena anak kampung yang sangat kampungan lah bisa bebas tes di universitas terkemuka di jakarta waktu itu, jaman 2001, setelah itu, hidup di jakarta yang metropolitan itu tanpa keluarga sama sekali, semua ada hikmahnya,” tuturnya.

“Semua ada hikmah dalam kehidupan dan tentu ada hikmah dibalik kesabaran, kalau kita sabar, kita tekun kita optimis tentu semua ada jalan yang diberikan Allah yah, sukses itu prosesnya sangat panjang, melalui banyak proses kompetitif,” tutupnya.

Penulis/Fotografer : Agus Mawan/Muhammad Adlan

loading...