Nyanyian Akar Rumput: Suara Anak Dari Bara-Baraya yang Terancam Tergusur

BERBAGI
Dalam Mimbar Rakyat Bara-baraya Bersatu, Joko menjadi tontonan ratusan warga dan para individu yang ikut bersolidaritas, di jalan Bara-baraya, Sabtu (7/7/2018) malam. Foto: Agus Mawan

MAKASSAR, SULSELEKSPRES.COM – Joko (14), satu dari sekian anak sebayanya yang bermukim di hamparan tanah seluas 3,2 Hektar yang terancam tergusur.

Dalam Mimbar Rakyat Bara-baraya Bersatu, Joko menjadi tontonan ratusan warga dan para individu yang ikut bersolidaritas, di jalan Bara-baraya, Sabtu (7/7/2018) malam.

Joko dengan tingkah demam panggungnya membacakan puisi dengan berjudul “Nyanyian Akar Rumput” milik Wiji Thukul, membawah pendengar kembali merefleksi segala usaha perlawanan yang telah usai.

Baca: Kisah Sedih Korban Selamat KM Lestari Maju: Dimana Anakku Ma?

“Jalan raya dilebarkan; kami terusir; mendirikan kampung digusur; kami pindah-pindah menempel di tembok-tembok dicabut; terbuang; kami rumput, butuh tanah, dengar!” baca Joko dihadapan warga.

“Ayo gabung ke kami, biar jadi mimpi buruk presiden!,” Joko menandaskan puisi Wiji Thukul disambut tepuk tangan.

Baca: Balita 18 Bulan Korban KM Lestari Maju Hilang Misterius

Sampai saat ini, upaya hukum dari warga dalam proses gugatan yang dilayangkan ahli waris tanah, Nurdin dg. Nombong, telah sampai pada sidang simpulan, pada Selasa (3/7/2018).

“Sejak perkara ini masuk ke rana persidangan, sekitar bulan 9 tahun lalu, harapan pertama kami, warga beserta mahasiswa itu bisa tetap kompak,” ujar Visi, Kuasa Hukum Warga Bara-baraya.

“Perkembangan dari sidang kemarin, harapan besar kami dari tim kuasa hukum, semoga warga dan teman-teman mahasiswa setelah kegiatan ini, bisa kembali bersatu mengawal kasus ini, intinya; Barabaraya menolak tergusur,” imbuhnya.

Penulis: Agus Mawan

loading...