Sinyal PDIP, Cawapres Jokowi dari Indonesia Timur

BERBAGI
Illustrasi

Pengamat Politik Universitas Muhammadiyah Makassar, Andi Luhur Priyanto menilai, beberapa tokoh Sulsel yang potensial belum ada yang mendekati profil JK.

“Saya kira juga pendekatan geopolitik kawasan bukan lagi pertimbangan utama Jokowi memilih wakilnya kali ini,” jelas Luhur kepada SulselEkspres.com, Senin (9/7/2018).

SYL, menurut Luhur sudah sangat sulit, mengingat komitmen dukungan Partai Nasdem ke Jokowi yang tidak sampai pada usungan Cawapres, sementara Abraham Samad, belum punya infrastruktur politik. Deklarasi dukungannya juga tidak berkembang.

“Amran Sulaiman sebenarnya yang paling dekat dengan Jokowi, kekuatannya juga teruji tetapi ia bukan tokoh partai politik atau tokoh yang bisa merebut dukungan partai politik, terutama partai yang berbasis Islam,” terangnya.

Sekadar diketahui, pemilu Presiden pertama digelar pada 2004 lalu, saat itu JK maju sebagai Cawapres dari SBY dan kemudian terpilih. Pilpres 2009 JK kembali maju sebagai Capres berpasangan dengan Wiranto. Kemudian Pilpres 2014 lalu JK maju dan terpilih sebagai Wapres berpasangan dengan Jokowi.

loading...