30 C
Makassar
Tuesday, March 24, 2026
HomeHeadlineSepanjang 2018, Walhi: Kerusakan Lingkungan Paling Parah di Pesisir dan Kars

Sepanjang 2018, Walhi: Kerusakan Lingkungan Paling Parah di Pesisir dan Kars

- Advertisement -

MAKASSAR, SULSELEKSPRES.COM – Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sulawesi Selatan (Sulsel) mencatat bahwa sepanjang 2018, kerusakan lingkungan yang paling parah adalah persoalan kars dan wilayah pesisir.

Direktu Walhi Sulsel, Al Amin, mengatakan bahwa dari catatan yang dihimpun oleh Walhi, kerusakan lingkungan yang paling berdampak pada kehidupan sosial masyarakat adalah persoalan pesisir dan kars yang ada di Kabupaten Maros.

Al Amin, mengatakan bahwa persoalan masyarakat di wilayah pesisir dikarenakan tambang pasir. Khususnya, di daerah Galesong Kabupaten Takalar. Yang menyebabkan abrasi disepanjang pesisir di sepuluh desa.

“Yang paling berdampak pada penghasilan atau pendapatan nelayan,” katanya, saat dikonfirmasi, Senin (31/12/2018).

Dia menjelaskan bahwa dari 6874 warga Kecamatan Takalar sebanyak 28 persen terkena dampak abrasi. Dari data yang diperoleh oleh Walhi, ada sepuluh desa yang terkena abrasi sepanjang lima belas meter.

Bahkan, dua tempat pemakaman umum yang ada di dua desa juga terkena abrasi. Yang mengakibatkan jenazah dari kuburan tersebut keluar, dan akhirnya dipindahkan oleh keluarga.

“Untuk cari ikan juga mereka menambah jarak mencari ikan hingha bermil-mil. Namun, hasil yang didapat tidak seberapa. Jadi, biaya operasi bertambah tapi hasil tidak seberapa,” katanya.

Sementara, untuk masyarakat di wilayah kars, akibat penambangan, debit air dan konsumsi masyarakat akan air bersih berkurang kalaupun ada sebagian besar sudah tercemar oleh limbah dari perusahaan tambang.

“Mereka kekeringan, padahal kars adalah wilayah di mana air bersih cukup banyak
Jadi, kars tidak seharusnya mengalami kekeringan,” jelasnya.

Penulis: M. Syawal

spot_img

Headline

spot_img
spot_img