MAKASSAR, SULSELEKSPRES.COM – Pengamat Politik Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Samsir Rahim, menilai keunggulan kandidat dalam survei tidak menjamin kemenangan di TPS.
Menurut Samsir, naik turunnya hasil survei dalam kontestasi politik nerupakan hal biasa, selama pelaksanaan survei dilakukan sesuai kaidah dan hasilnya disajikan secara gamblang sesuai fakta di lapangan.
“Ya publikasi hasil survei menjelang pemilihan adalah hal biasa. Dan itu tidak jadi soal sepanjang dilakukan dengan cara-cara jujur. Artinya, data yang dipublikasi adalah data apa adanya,” ujar Samsir, Selasa (6/10/2020).
Lebih lanjut Samsir menguraikan sekaligus mengingatkan kepada para kandidat, bahwa hasil survei menjelang pemilihan bisa memicu munculnya bandwagon effect dan underdog effect.
Bandwagon effect atau efek ikut-ikutan yang diharapkan muncul atas hasil survei keunggulan kerap kali tidak efektif. Malah kadang menjadi serangan balik, dimana yang muncul yakni underdog effect. Dimana publik simpati dan mendukung kandidat yang surveinya rendah.
“Hasil survei tak hanya menimbulkan bandwagon effect tapi juga underdog effect. Teori bandwagon effect tidak selamanya bisa bekerja efektif dan itu sudah terbukti dalam sejumlah gelaran pilkada,” terang dia.
Samsir mencontohkan Pilgub DKI Jakarta 2012, dimana Fauzi Bowo alias Foke-Nachrowi Ramli kerap unggul pada hasil survei tapi ternyata yang tampil sebagai pemenang adalah Jokowi-Ahok. Di level Sulsel, ada Pilkada Gowa 2015, Pilkada Takalar 2017 dan Pilkada Wajo 2018 yang juga menunjukkan teori bandwagon effect tidaklah efektif.
“Pilkada Gowa 2015, kita masih ingat ada lembaga survei yang berani pastikan Tenri Olle-Hairil Muin unggul dari rivalnya, tapi yang menang adalah Adnan-Kio.”
“Lalu, ada Pilkada Takalar 2017, dimana ada lembaga survei ternama unggulkan petahana, tapi yang menang malah rivalnya, yakni Syamsari Kitta-Achmad (Dg Serre). Begitu juga di Pilkada Wajo 2018, hasil survei unggulkan Barakka tapi yang menang adalah Pammase.”
“Dari situ bisa disimpulkan bahwa hasil survei bukanlah jaminan dan teori bandwagon effect kerap kali tidak bekerja efektif. Sering kali kita dapati ada kandidat jago dan unggul di hasil survei tapi malah keok di TPS, di pemilihan sesungguhnya,” jelas Samsir.
Dari pengalaman itu, ia berpendapat kemungkinan keoknya kandidat jagoan lembaga survei sangat terbuka. Terlebih juga sudah ada kejadian terdahulu saat Pilwalkot Makassar 2013.
Kala itu, paslon yang dijagokan menang adalah almarhum Supomo Guntur yang berpasangan dengan Kadir Halid. Namun, di TPS yang menang adalah Danny Pomanto yang berpaket dengan Deng Ical.
“Makanya saya mau bilang, jika tidak hati-hati menjalankan teori bandwagon effect, malah bisa berujung malapetaka bagi sang kandidat. Bukan bandwagon effect yang didapat dari publikasi survei, tapi underdog effect. Orang justru iba kepada figur yang selalu dikabarkan kalah melalui publikasi data survei,” tutupnya.
Baru-baru ini, Profetik Institute merilis survei elektabilitas empat pasangan calon (paslon) di Pilwali Makassar 2020. Hasilnya, Appi-Rahman menggungguli tiga kandidat lain, termasuk Adama dan Dilan.
Selain Profetik Institute, Indeks Politica Indonesia (IPI) juga kerap mempublikasikan narasi serupa bahwa elektabilitas paslon Appi-Rahman melampaui rivalnya. Maraknya kemunculan hasil survei yang menggunggulkan kandidat tertentu menjadi fenomena biasa pada pesta demokrasi.
Dengan begitu, paslon tang berada di jajaran atas survei diminta untuk tetap mawas dan terus melakukan upaya pemenangan ubtuk menghindari terjadinya Underdog Effect.
Penulis : Widyawan Setiadi



