MAKASSAR, SULSELEKSPRES.COM – Pandemi Covid-19 hampir setahun mewabah hampir di seluruh negara. Saat ini dunia internasional telah mengupayakan pemenuhan bagi warganya, termasuk Indonesia. Dalam penanganan Covid-19, Kota Makassar termasuk daerah yang menjadi perhatian Pemerintah Pusat.
Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo (Bamsoet) didampingi Sekprov Sulsel memantau simulasi vaksinasi Covid-19 di Puskesmas Makkasau Makassar.
“Tadi saya membayangkan kalau di Jawa rata-rata puskesmasnya kecil-kecil. Saya melihat ini, ini rumah sakit atau puskesmas. Tidak salah Pak Dirjen bilang ini adalah puskesmas paripurna terhebat di Makassar,” katanya. Selanjutnya ia dan rombongan disambut oleh Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah (NA) dalam acara perjamuan makan malam di Rumah Jabatan Gubernur.
Vaksin ini juga rentan dikomersilkan di tengah krisis kesehatan saat ini. Sehingga ini menghambat upaya vaksinasi untuk mengatasi pandemi penyakit ini. Langkah pemerintah menggeratiskan vaksin memberikan harapan segera berakhirnya pandemi.
Sehingga di awal sambutan Bamsoet menekankan bahwa vaksin ini digratiskan oleh pemerintah. Ini juga merupakan bentuk tanggungjawab negara memenuhi konstitusi untuk keselamatan kesehatan warga negara Indonesia.
“Kita bersyukur akhirnya presiden memutuskan untuk mengratiskan biaya pelayanan vaksin di kita semua,” tegasnya.
Kedatangan vaksin Covid-19 di Indonesia awal Desember ini dipandang sebagai salah satu kemampuan Indonesia untuk meyakinkan produsen vaksin dunia. Sejak Maret Indonesia ikut memburu vaksin, obat dan berbagai kebutuhan melawan corona.
“Kita bertarung dan berebutan dengan negara-negara lain, karena 250an negara mengalami hal yang sama dengan kita. Sementara pabrikan vaksin itu tidak banyak,” sebutnya.
Ditargetkan Januari 2021 akan masuk 15 juta vaksin dan bertahap. Sehingga Juni target 70 persen dari 270 juta warga Indonesia telah divaksin. “Maka kita bisa bernafas lega dan kembali normal,” imbuhnya.
Sementara, Nurdin Abdullah menjelaskan bahwa kasus Covid-19 yang terjadi di Sulsel didominasi dengan status orang tanpa gejala (OTG).
“80 persen itu adalah OTG, sehingga hampir semuanya kita rawat di hotel. Di rumah sakit sampai hari ini okuvansinya di bawah 50 persen. Jadi, insyaallah, mudah-mudahan bisa kita kendalikan dengan baik,” jelasnya.



