MAKASSAR, SULSELEKSPRES.COM – Induk federasi sepakbola dunia, Fédération Internationale de Football Association (FIFA), secara resmi mengeluarkan keputusan penundaan gelaran akbar Piala Dunia U-20 di Indonesia yang rencananya bakal digelar pada tahun 2021 ini.
Keputusan tersebut dikeluarkan beberapa waktu lalu melalui laman resmi FIFA. Sontak saja keputusan itu membuat sejumlah insan sepakbola merasa kecewa. Akan tetapi, keputusan tersebut tampaknya memang harus ditunda akibat meningkatnya kasus penularan Covid-19 di berbagai belahan dunia.
Keputusan FIFA ini memang sempat menuai kontroversi dari berbagai kalangan. Sebab, ada banyak hal yang dinilai menimbulkan kerugian dari penundaan Piala Dunia U-20 tahun 2021 ke tahun 2023 mendatang.
Meski begitu, salah satu Pengamat Sepakbola, Andi Widya Syadzwina, menganggap hal ini menjadi sesuatu yang wajar. Sebab, penundaan ini tidak melulu soal kerugian saja, tetapi memberikan sejumlah keuntungan juga, khususnya untuk Indonesia yang merupakan tuan rumah pelaksanaan Piala Dunia U-20 2021.
“Memang kondisinya agak sulit untuk menggelar Piala Dunia di tahun ini. Apalagi kalau mau dipaksakan di tengah kondisi pandemi Covid-19 seperti ini. Keputusan FIFA menunda sudah tepat, daripada nanti hasilnya tidak maksimal dan berisiko. Karena ini melibatkan banyak negara di seluruh dunia,” buka pengamat sepakbola perempuan asal Sulawesi Selatan tersebut.
Lebih lanjut eks Media Officer (MO) PSM Makassar tersebut mengatakan, Indonesia yang ditunjuk sebagai tuan rumah tentu bisa memanfaatkan penundaan ini untuk melakukan persiapan lebih matang. Sebab, dalam kurun waktu dua tahun itu dinilai lumayan cukup untuk membenahi sejumlah kekurangan tim.
Selain itu, hal-hal vital dalam pelaksanaan gelaran akbar tersebut, seperti halnya infrastruktur, tentu masih bisa dimaksimalkan. Dengan begitu, jika pelaksanaan di tahun 2023 mendatang tiba, tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan.
“Indonesia sebagai tuan rumah bisa memanfaatkan penundaan ini untuk mempersiapkan segala sesuatunya lebih baik lagi, khususnya infrastruktur. Timnas juga punya waktu untuk berbenah dan melakukan persiapan lebih matang,” jelas Wina.
Tidak bisa dipungkiri, kekecewaan atas penundaan memang ada. Bahkan, Wina juga menyayangkan penundaan ini. Sebab, sejumlah pemain potensial yang sejatinya bisa tampil di ajang kompetisi sepakbola tertinggi di dunia untuk U-20 tahun 2021 ini, harus urung karena usia mereka sudah bertambah di tahun 2023 mendatang.
“Hanya memang yang cukup disayangkan itu ada beberapa pemain ptensial yang usianya pasti akan lewat dan tidak punya kesempatan lagi untuk membela Indonesia di tahun 2023 mendatang,” beber Wina.
Meski begitu, sebagai orang yang memang sudah menggeluti sepakbola sejak dahulu, Wina berharap agar kompetisi sepakbola resmi di Indonesia kembali digelar. Selain untuk mengobati kekecewaan, tentu kompetisi ini bisa mengobati rasa rindu para suporter.
Akan tetapi, mantan manajer PSM Makassar di AFC Cup tersebut memberikan catatan khusus, seperti penerapan protokol kesehatan yang ketat, juga pengawasan yang maksimal dari pihak berwenang. Sehingga, Wina menilai, pihak keamanan seharusnya sudah bisa memberikan izin pelaksanaan kompetisi.
“Sebaiknya kompetisi liga Indonesia tahun 2021 segera digelar. Tetapi dengan ketentuan standar protokol kesehatan yang ketat dan kedisiplinan kompetisi saat berjalan harus dikontrol dengan baik,” jelas Wina.
“Kepolisian juga sebaiknya memberikan izin penyelenggaraan. Jika memang ada syarat yang harus dipenuhi agar izin keluar, buatlah komitmen dengan pihak-pihak terkait, agar itu bisa dipenuhi. Supaya klub yang terlibat bisa segera mempersiapkan diri,” lanjutnya.
Lebih jauh Wina mengatakan, para pemain profesional yang selama ini menganggur akibat berhentinya kompetisi tetap melakukan persiapan dan menggelar turnamen kecil-kecilan. Hal itu dinilai sebagai bentuk kesiapan para pemain untuk menghadapi kompetisi yang baru.
“Karena kalau kita lihat sekarang, walaupun belum ada kompetisi resmi, beberapa pemain tetap terlibat dalam gelaran sepakbola skala kecil, seperti kompetisi antar kampung (Tarkam) dan fun football. Jadi, dari sisi pemain sebenarnya sudah siap jika liga dimulai kembali,” tutupnya.



