BULUKUMBA, SULSELEKSPRES.COM – Dalam dekat ini, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel akan merealisasikan permintaan warga desa Ara, kecamatan Bontohari, Bulukumba, untuk membangun akses jalan.
Desa yang merupakan lokasi sentra pembuatan kapal phinisi ini, sejak dulu tidak memiliki akses jalan yang baik, padahal menurut Tokoh Masyarakat setempat, Hasan Denge, Desa Ara cukup dekat dengan lokasi wisata lainnya.
“Mudah-mudahan dibuat akses jalan dari Pantai Mandala Ria ke Apparalang karena jaraknya hanya 1,5 Km,” ujar Hasan.
Untuk itu, Gubenur Sulsel Nurdin Abdullah, memastikan dalam dua hari kemudian, akan langsung ditindaklanjuti dengan dilakukan pengukuran dan rencana penyelesaian pada tahun 2019.
“Hari Senin, Kadis PU saya langsung suruh datang. Kita tunjukin saja dari mana sampai mana, 2019 kita selesaikan,” sebut Nurdin, saat berkunjung ke Pantai Mandala Ria, Desa Ara, Kecamatan Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba, Sabtu (15/9/2018).
Hal ini kata Nurdin, sebagai bentuk dukungan untuk pengembangan pariwisata di Sulsel. Apalagi dibandingkan Bali, kunjungan wisatawan yang ke Sulsel jumlahnya jauh lebih sedikit. Wisatawan ke Bali 4,5 juta, sedangkan Sulsel hanya 0,4 persen dari jumlah tersebut.
“Ini karena ke Bali, semuanya kemana-mana mudah, makanya Bulukumba harus diperjuangkan,” ujarnya.
Sementara Hasan Denge, dalam kesempatan sambutannya, mewakili masyarakat mengucapkan terima kasih. Atas kedatangan gubernur yang baru.
“Saya mengucapkan selamat datang kepada Bapak Profesor, Pak Gubernur, Desa Ara dan Desa Lembanna dulunya satu. Atas kedatangan sebagai kunjungan pertama, kami mengucapkan terima kasih,” kata Hasan.
Hasan kemudian menunjuk beberapa kapal phinisi yang sedang dikerjakan dan mengatakan telah dipesan calon pembeli.
Menurutnya, desa Ara ini juga memiliki potensi wisata, sama halnya dengan Pantai Bira, namun karena aksesnya objek ini tak terlalu dilirik.
“Desa ini juga merupakan objek wisata yang mirip dengan Tanjung Bira, namun belum terekspos dengan baik,” imbuhnya.
Hasan kemudian menjelaskan bahwa nama Pantai Mandala Ria ini berasal dari pemberian nama yang diberikan oleh kepala desa waktu itu, Mustari, berdasarkan peristiwa pembebasan Irian Barat pada tahun 1962. Pada saat itu, Jendral Mandala di desa ini diminta untuk dibuat 20 kapal dalam 20 hari, dan terwujud.
Pada akhir acara, didampingi sang istri, Liestyati F Nurdin. Dalam kesempatan ini juga, Nurdin melakukan dialog dengan warga setempat untuk mendengarkan aspirasinya.






