SULSELEKSPRES.COM – Enam tahun lalu, Amerika Serikat berkabung, atas tragedi pembantaian yang dilakoni remaja bernama Adam Peter Lanza (20) di Sekolah Dasar Sandy Hook, kota Newton, Connecticut.
Dengan dua pistol kaliber 9 mm milik ibunya, Adam diketahui menghabisi nyawa 20 anak-anak yang merupakan siswa sekolah tersebut dan 7 orang dewasa termasuk ibu kandungnya, yang merupakan guru di sekolah yang ia sasar.
Setelah pembantaian berlangsung dari pukul 09.35 waktu setempat hingga 10.30. Adam lalu memilih menembak dirinya dan dinyatakan tewas oleh pihak kepolisian.
BACA: Pemprov Sulsel Fokus Ekspor Rumput Laut ke Amerika dan Eropa
Pukul 2.47 waktu setempat, Presiden Barack Obama menginstruksikan agar bendera Amerika Serikat dikibarkan setengah tianga sebagai tanda berkabung nasional.
“Mereka (korban anak-anak) masih punya kesempatan hidup yang panjang untuk merayakan ulang tahun, kelulusan, pernikahan, dan bersama anak-anak mereka kelak,” ujar Barrack Obama dengan meneteskan air matanya saat jumpa pers, di Gedung Putih, 14 Desemeber 2012, seperti dikutip dari Daily Mail.
BACA: 6 Posisi Seks yang Populer di Benua Amerika
Peristiwa penembakan tersebut, disebut-sebut sebagai insiden kedua paling mematikan dalam sejarah Amerika Serikat setelah pembantaian di Virginia Tech pada tahun 2007.
Kronologi
Hari itu, Jumat 14 Desember 2012, kota yang berpopulasi 27,865 (tahun 2016) ini nampak tenang. Pagi hari, para anak-anak mempersiapkan diri berangkat ke sekolah mereka.
Aktivitas mengajar-belajar Di Sekolah Dasar Sandy Hook, kota Newton, Connecticut mulai pukul 09.30 waktu setempat. Tak ada yang kira, 5 menit kemudian terjadi penembakan dan menewaskan 26 orang.
BACA: VIDEO: Dr Abdul Malik, Penarik Becak Hingga Ke Amerika
Di sela waktu itu, Adam menorobos ke Sekolah, tempat ibu kandungnya mengajar. Namun sebelumnya, menurut kepolisian setempat, nyawa ibunya Nancy Lanza (52) lebih dulu direnggut Adam menggunakan senjata milik Nancy.
Dilansir dari Daily Mail, saat itu Adam masuk ke sekolah dengan menenteng dua pistol merk Glock dan Sig Sauer, sementara sebuah senapan kaliber 223 ia simpan di mobil.
Dalam laporan Huffington Post, saat aktivitas telah dimulai, sekolah sudah dinyatakan aman, sebab telah dikunci sesuai prosedur.
Tiba-tiba meletus tembakan pertama. Korban pertama adalah Kepala Sekolah, Dawn Hochsprung. Ia diduga ditembak di ruang kerjanya.
Setelah itu, Adam mulai membantai. Kata kepolisian, ia memasuki dua kelas dan melepas tembakan dengan acak. Salah satu kelas, seisinya dinyatakan tewas oleh pihak otoritas.
Kepolisian diterjunkan, dan tak tanggung-tanggung tim SWAT (Special Weapons And Tactics) pula diturunkan beserta sejumlah unit medis.
Sekitar sejam membantai, Adam lalu menembak dirinya. Ia dinyatakan tewas. Setelah kepolisian menduga dalang dari penembakan ini adalah Ryan Lanza (24) kakak kandung Adam.
Pada pukul 13.08 waktu setempat, polisi mengumumkan korban tewas mencapai 27 orang termasuk sang pelaku. 20 di antaranya anak-anak. Sisanya adalah staf yang bekerja di sekolah tersebut.
Pukul 14.00, jazad Nancy ditemukan. Ia ditemukan tewas dengan luka tembak di wajahnya.



