MAKASSAR, SULSELEKSPRES.COM – Jelang pencoblosan pemilihan walikota dan wakil walikota Makassar 2020, Akademisi Universitas Megarezky (Unimerz) Makassar, Dr.H.Syamsunie Carsel HR.M.Pd, memprediksi adanya peluang konflik di hari pemilihan.
Tensi politik yang semakin memanas dinilai menjadi salah satu pemicu munculnya peluang tersebut. Bahkan, hal ini sudah terbaca sejak terjadinya insiden penikaman di debat kandidat pertama yang berlangsung di studio Kompastv, Jakarta Pusat.
“Menurut pengamatan saya, pilwali makassar ini sangat rawan terjadinya konflik. Sebab, debat diawali dengan insiden penikaman sampai pada adanya kandidat yang saling menyerang dan saling fitnah,” buka Carsel.
“Pilwali merupakan momentum yang memiliki aura tersendiri di tengah tengah masyarakat. Sebab 4 kandidat walikota ini masing-masing memiliki karakter yang mereka jual ke masyarakat, dan tertuang kedalam program mereka 5 tahun kedepan,” ujar Carsel kepada Sulselekspres.com.
Lebih lanjut Carsel mengatakan, fenomena money politic tersebut, selain memicu peluang konflik, money politic juga merupakan praktik negatif yang bisa dikatakan sebagai tindakan merendahkan martabat sendiri.
“Ini mementum yang memberikan narasi kepribadian para kontestan. Hanya saja disayangkan jika kandidat-kandidat ini menyerang satu sama lain dari aspek negatif. Selain itu, adapula kandidat yang berupaya melakukan money politic,” jelasnya, Selasa (8/12/2020) malam.
“Politik uang ini merupakan gerakan tambahan kandidat, yang secara tidak langsung memproklamirkan kerendahan martabat dan mentalitas yang bobrok,” imbuhnya.
Lebih jauh Carsel berpendapat, keempat kontestan yang bertarung di Pilwali Makassar ini memiliki loyalis tersendiri. Sehingga, tindakan-tindakan fanatisme yang memicu lahirnya konflik sangat memungkinkan terjadi.
Sehingga, Carsel berharap siapapun yang terpilih menjadi nahkoda kota Makassar bisa membawa amanah rakyat. Begitu juga dengan yang kalah, agar legowo menerima hasil pesta demokrasi ini.
“Keempat kontestan dalam Pilwali ini masing-masing memiliki massa yang loyal, sehingga diharapkan keempat kontestan ini bisa menahan diri, terutama pasca pilwali.”
“Yang menang silakan pertanggungkawabkan amanah rakyat Makassar, yang kalah harus legowo alias berjiwa besar, agar kota Makassar ini tetap sejuk dan damai,” harap Carsel.
Carsel juga mengimbau kepada para kandidat agar bisa mengontrol massanya, memberikan imbauan dengan baik, agar bisa berlaku bijak terhadap hasil pemilihan.
Sebab, jika paslon tidak mampu mengimbau pengikutnya, bahkan tidak bisa menahan diri, maka struktur fungsional masyarakat bisa berubah menjadi kekacauan besar.
“Olehnya itu saya sebagai pengamat sosial memandang, jika keempat kandidat ini tidak dapat menahan diri, maka kota Makassar akan mengalami perubahan sosial yang signifikan, dari masyarakat struktur fungsional berubah menjadi konflik yang dapat mengancam stabilitas sosial.”
“Saya hanya berharap hal ini tidak terjadi. Sebab, kita semua orang berpendidikan, orang yang memegang teguh adat dan budaya Bugis-Makassar, yakni Sipakatau, Sipakalabbiri, Sipakainga,” tutupnya.



