MAKASSAR, SULSELEKSPRES.COM – Bagi supporter PSM Makassar, tentu tidak satupun dari mereka yang tidak mengenal sosok legenda hidup Juku Eja, Syamsul Bachri Chaeruddin.
Legenda yang mengawali karirnya sejak dari PSM junior tersebut telah berseragam Juku Eja sekitar 15 tahun lamanya.
Eks bintang lapangan tengah kelahiran Gowa tersebut bergabung bersama PSM junior pada tahun 1999-2000. Kemudian di tahun 2001 Syamsul dipanggil naik ke tim senior PSM Makassar.
Sepuluh tahun berseragam Juku Eja, tepatnya sejak tahun 2001 sampai tahun 2010, Syamsul memutuskan hengkang ke tim ibu kota, Persija Jakarta.
Di Persija Syamsul bermain selama satu musim, kemudian hijrah ke Sriwijaya FC selama setengah musim. Setelah itu Syamsul kembali merumput bersama PSM Makassar hingga tahun 2018.
Keputusan mengejutkan diambil Syamsul ketika dirinya memutuskan hengkang ke PSS Sleman pada musim 2018/2019. Bahkan dirinya memutuskan gantung sepatu di PSS.
Tetapi banyak yang tidak tahu alasan dibalik hengkangnya sang legenda. Kepergian Syamsul ternyata bukan karena tidak ingin lagi membela PSM Makassar, tetapi karena memikirkan regenerasi di tubuh PSM.
“Waktu itu saya pindah bukan karena tidak cinta PSM lagi. Kalau perasaan saya sedih sekali, apalagi PSM yang sudah angkat nama saya dari awal,” ujar Syamsul, sebagaimana ditayangkan dalam akun Youtube Ferdinand Sinaga.
BACA; Syamsul Chaeruddin Awali Liga 2 dengan Kemenangan dan Kartu Kuning
“Saya berpikir bahwa PSM ini sudah banyak sekali memberikan saya kesempatan, 15 tahun berseragam PSM. Tapi saya lihat banyak pemain baru, pemain muda, yang layak diberikan kesempatan lebih dalam bermain,” lanjut Syamsul.
Pria 37 tahun tersebut juga tidak memungkiri bahwa masa produktifnya di lapangan hijau sudah menurun. Bahkan ia juga mengakui jika mulai tidak dibutuhkan lagi oleh pelatih.
“Pemain bola itu kan ada batas usia produktifnya. Saya kira saya mulai menurun, dan waktu itu juga sudah jarang dimainkan. Jadi itulah alasannya,” beber Syamsul.
Setelah memutuskan gantung sepatu, saat ini Syamsul mulai menggeluti dunia kepelatihan. Ia mengaku sedang membangun karir kepelatihannya di kampung halamannya, Gowa.
“Sekarang sih rutinitas ya melatih anak-anak di kampung. Kalau ada kesempatan sih pengen juga ambil lisensi, karena pemain bola kan tidak jauh-jauh dari situ. Cuma harus banyak belajar duku, karena beda waktu jadi pemain dengan jadi pelatih,” terang Syamsul.



