MAKASSAR, SULSELEKSPRES.COM – Sore masih ramai. Cuaca sangat cerah. Beberapa pengunjung pasar Tidung sibuk memilah sayur mayur. Sementara beberapa lainnya memilih membolak-balikkan ayam yang sudah dibersihkan.
Berbeda dengan pedagang lain yang sibuk melayani pembeli, Daeng Sila, justru sedikit murung. Duduk menyendiri diantara bau amis.
“Begini mi kodong. Serba salah juga kita. Tinggal di rumah tidak makan, tetap jual ikan tapi sepi pembeli,” celetuk Daeng Sila saat ditemui reporter Sulselekspres.com.
Daeng Sila merupakan warga RW 02, RT 01, kelurahan Mappala, kecamatan Rappocini, kota Makassar, yang setiap harinya berjualan ikan di pasar Tidung. Ia tetap berjualan meski pemerintah kota Makassar telah memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).
Bermodalkan tripleks tebal berukuran 1×1,5 meter, Daeng Sila giat memajang ikan untuk dijual. Sore itu tak ada Bandeng, tak ada Cakalang, hanya beberapa ikan Bete-bete, Katombo, dan ikan kecil lainnya.
Meski begitu, Daeng Sila enggan berkeluh. Ia hanya menjalani rutinitasnya seperti biasa, selebihnya ia serahkan kepada Tuhan yang mengatur segalanya.
“Ya cuma begini. Usaha saja dulu, rezeki Tuhan yang atur,” ujarnya sembari memperlihatkan ikan dagangannya.
“Sebenarnya setengah mati juga. Sejak ada ini isu Corona, sepi sekali pembeli. Apalagi masuk mi Ramadhan. Bantuan pemerintah juga tidak ada. Padahal sudah berapa kali kumpul KK di RW,” ia berkisah dengan air muka yang murung.
Pemilik nama lengkap Achmad Abdullah tersebut berharap pemerintah bisa memperhatikan warga kecil seperti dirinya, ditengah wabah Covid-19 ini.
“Ya mudah-mudahan ada betul bantuan dari pemerintah. Mau makan apa kita kalau tidak ada bantuan? Anak-anak banyak keperluan. Jualan juga kan dilarang. Saya jualan di sini dari jam 3 sampai magrib.”
Tidak lama berselang, dua orang ibu memotong perbincangan kami. Mereka menanyakan harga ikan, kemudian membelinya beberapa ekor.
Setelah melayani pembeli, kami melanjutkan perbincangan. “Ya begini mi. Satu dua orang mami pembeli. Tidak sama dulu, selalu ramai. Apalagi kalau Ramadhan,” terang Daeng Sila.
“Belum lagi harga ikan di pelelangan sekarang mulai naik. Kalau dulu harganya 30-an ribu satu kilo. Sekarang sudah 35 ribu. Kita juga harus tambah biaya es, supaya tetap segar ikan. Karena biasa tinggal sampai empat hari tidak habis. Kalau hari normal, sehari bisa habis,” lanjutnya.
Beban berat tampak jelas di wajah pria paruh baya tersebut. Ia tampak lebih tua dari usianya yang hampir menyentuh kepala empat. Meski begitu, ia tetap gigih berjuang untuk keluarga.
Menjadi tulang punggung keluarga sudah pasti bukan perkara mudah. Tetapi apapun rintangannya, tentu akan tetap dilalui, demi anak istri.
Daeng Sila kemudian memberi kalimat penutup, sebagai tanda akhir perbincangan kami.
“Saya tidak tau pemerintah serius atau tidak sekarang. Kalau tidak ada kejelasan bantuan, kita juga setengah-setengah. Mau jual ikan takut dipukuli, disuruh pulang. Tidak jualan, apa mau na makan anakku sama istriku di rumah.”
Riuh pasar masih membelah telinga. Matahari mulai meredup. Kami memutuskan berpisah, setelah saya berpamitan.



