25 C
Makassar
Thursday, February 12, 2026
HomeNasionalCerita Lahirnya Megawati, Ketua Umum DPP PDIP

Cerita Lahirnya Megawati, Ketua Umum DPP PDIP

- Advertisement -

MAKASSAR, SULSELEKSPRES.COM – Kader PDI Perjuangan dan Masyarakat Seantero Nusantara mengucapkan selamat Ulang Tahun dan mendoakan Ibu Megawati Sukarno Putri.

Kader PDI Perjuangan dan masyarakat seantero Nusantara turut mengucapakan selamat ulangan tahun kepada ibu Hj Megawati Soekarno Poetri dan mendoakan dengan caranya sendiri-sendiri di daerah wikayah kediaman masing-masing mulai dari Sabang sampai Merauke dan dari Nias sampai Rote.

Kondisi ini terlihat dari berbagai ucapan yang menghiasi langit media soasial baik FB, Twiter, Path, Instagram dan line serta berita baik online maupun cetak.

“Kader dan simpatisan PDI Perjuangan se Sulawesi Selatan bersama masyarakat Sulsel juga rame-rame menyampaikan ucapan selamat ulang tahun kepada ibu Megawati Soekarno Poetri yang juga Presiden RI ke 5 dan satu-satu presiden Peremupuan pertama di Indondesia ini,”Kata Wakil Ketua Bidang Komunikasi Politik DPD PDI Perjuangan Sulsel, Niko Beni.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat PDI Perjuangan, Hj Megawati Soekarno Poetri tepat pada hari ini 23 Januari 2018 telah berusia 71 tahun.

Megawati Soekarno Poetri lahir pada tanggal 23 Januari 1947, saat itu musim hujan. Pagi-pagi awan hitam. Lahirlah dari Gedong Agung seorang anak perempuan, yang kemudian bapaknya duduk di teras Gedong Agung bersama Hatta, Pringgodigdo dan Achmad Soebardjo.

Berikuti Cerita Lahirnya Megawati:

Bapak bayi tersebut melihat ke atas awan, gulungan awan menghitam menyimpan air siap diguyurkan ke bumi, pada tanah di mana revolusi mengembangkan sayapnya.

Sukarno nama Bapak itu berkata kepada Hatta.

“Langit kali ini begitu kelam ya, Ta”.

Hatta mengangguk lalu menyahut,
“Mungkin pagi ini akan turun hujan lagi…”

Sukarno lalu meminum kopi tubruknya dan kemudian berdiri. Lalu ia berucap dengan nada pelan seperti angin pagi itu yang melantunkan nada sendu tentang tanah air yang terinjak-injak lars pengusung tanah koloni

“Anakku akan kunamakan Megawati, ia lahir ketika langit kelam. Ia dilahirkan ketika bangsa ini menginginkan rasa merdekanya.

Mega…adalah pralambang dari negeri ini yang masih berduka”.

Dan bayi perempuan yang baru dilahirkan itu memecahkan tangisnya.

Penulis: Abdul Latif

spot_img

Headline

spot_img
spot_img