MAKASSAR, SULSELEKSPRES.COM – Keluarga ketua partai mendaftar sebagai calon anggota legislatif (Caleg) di partai lain menjadi fenomena pada Pileg tahun 2019 mendatang, khususnya kepala daerah yang juga menjabat sebagai ketua partai.
Di Sulsel ada beberapa ketua partai yang istri dan anaknya mendaftar sebagai Caleg di partai berbeda, diantaranya istri Ketua Golkar Jeneponto Iksan Iskandar, Hj Hamsiah Ikhsan membidik kursi DPR RI lewat partai Nasdem, anak ketua Golkar Enrekang Muslimin Bando, Mitra Fachruddin MB membidik kursi DPR RI melalui partai PAN.
Selanjutnya istri Ketua PAN Wajo Amran Machmud, Sitti Maryam juga membidik kursi DPR RI melalui partai Nasdem. Selanjutnya istri Wali Kota Makassar Moh Ramdhan ‘Danny’ Pomanto, Indira Yusuf Ismail mengendarai Perindo untuk membidik kursi DPR RI. Meski Danny bukan ketua partai, tapi dia adalah kepala daerah yang telah resmi bergabung ke Nasdem.
Pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Makassar, Andi Luhur Priyanto yang dikonfirmasi tidak menepis, bahwa sikap politik antar keluarga yang berseberangan tentunya akan mempengaruhi fokus ketua partai dalam memperjuangkan kepentingan partai.
Bukan hal yang tidak mungkin, sekalipun berstatus ketua partai, tapi yang bersangkutan akan tetap membantu, bahkan mendahulukan kepentingan keluarga. Dia melanjutkan bahwa fenomena tersebut cenderung merupakan konsekuensi dari Pilkada sebelumnya. Dimana biasanya terikat oleh kontrak politik atas dukungan Pilkada.
“Saya kira majunya istri ketua partai di kontestasi Pileg 2019, pada partai yang berbeda lebih sebagai konsesi dukungan pada Pilkada sebelumnya. Tergantung perjanjian mereka, tapi perjanjian utama biasanya hanya mendorong istri atau anak menjadi Caleg dan urusan terpilih adalah langkah selanjutnya,” kata Luhur, Rabu (2/1/2019).
Olehnya, dia melanjutkan bahwa ketua partai yang bersangkutan tentu akan banyak berspekulasi untuk mencari aman. “Di tengah ketidakpastian dan dinamika politik, Saya kira ketua partai itu akan bermain safety dan mencari alternatif-alternatif,” katanya.
Teruntuk Danny Pomanto, meski istrinya mengendarai Perindo, tapi dia tetap mendorong anaknya di Dapil yang sama melalui partai NasDem. Luhur menilai Ini tergantung prioritas Danny.
“Pak DP sepertinya punya kalkulasi elektoral tersendiri untuk mendorong anak dan istrinya di Pileg. Kalau basis dukungan relawan kotak kosong masih bisa di pertahankan kerja-kerja elektoralnya, keduanya bisa lolos meraih kursi legislatif. Tergantung perolehan PT masing-masing partainya,” katanya.
Tetapi karakter kompetisi Pileg, kata dia berbeda dengan Pilwali. Para pendukung di Pilwali dinilai bisa saja punya kedekatan dan jadi loyalis kandidat lain. Termasuk dipengaruhi dukungan DP pada pasangan Capres-Cawapres.
“Kalau pak DP masih punya asa di Pilwali 2020, sebaiknya mengatur strategi untuk membesarkan partai politik, dengan atau tanpa harus menjadikan anggota keluarganya sebagai anggota legislatif,” tutupnya.



