“Berlanjut tahun 2017 dengan label kompetisi perdana Liga 1, PSM masuk favorit kandidat juara bersama Bali United. Peluang besar PSM juara akhirnya kandas di penghujung kompetisi ketika Bhayangkara FC menyalip di tingkungan terakhir perlombaan.”
BACA: Ini Alasan Kios Tix Tidak Jual Tiket Final Leg Kedua Piala Indonesia
“Lanjut ke kompetisi musim selanjutnya 2018, PSM kembali ke trek juara. Persaingan bahkan mengerucut hingga pekan terakhir. Tapi apa daya, meski menang besar 5-1 atas PSMS Medan, tim Juku Eja kembali menanggung kecewa karena sang rival, Persija Jakarta juga menang atas Mitra Kukar.”
Dan kemarin (28/7) seolah belum cukup kisah-kasih yang sebelumnya, PSM kembali “berhadapan” dengan PSSI. Final leg 2 Piala Indonesia 2018 mendadak batal digelar di Stadion Andi Matalatta,” tulis Bung Towel.
Sementara di part 2, Bung towel menulis tentang munculnya kembali kecurigaan publik soal mafia bola. Bung Towel juga mengaitkan komentar awal sekjen PSSI, Ratu Tisha, yang terkesan mengandung tendensius.
“Keputusan mengejutkan PSSI kemarin akhirnya memicu istilah anak emas dan anak tiri makin nyating terdengar di telinga publik sepak bola nasional. PSSI boleh suka atau tidak, tetapi nyatanya publik sepakbola semakin kritis.”
“Pernyataan sekjen Ratu Tisha jauh-jauh hari sebelum final yang awalnya kurang sedap terdengar akhirnya berkembang menjadi kontroversial. Ucapan yang dilansir media per 12/7 lalu, Ratu Tisha mengatakan “Jika Persija juara di Makassar, fans PSM harus legowo (Tribunnews.com); jelas terdengar dan terasa tendensius.”
“Lewat pernyataan ini seolah Ratu Tisha sudah memframing situasi dan kemungkinan yang terjadi di Makassar. Nah dengan pembatalan di Makassar kemarin logika sepakbola publik seolah mendapat kaitan dan argumentasinya antara ucapan sekjen seperti di atas dengan kenyataan yang terjadi di lapangan.”
Tulisan Bung Towel tersebut sontak mendapat respon dari publik instagram. Tidak sedikit komentar dari dua kubu supporter, serta publik sepakbola nasional.



