25 C
Makassar
Thursday, March 5, 2026
HomeMetropolisDulu Penjahat, Sekarang Penjahit

Dulu Penjahat, Sekarang Penjahit

- Advertisement -

MAKASSAR, SULSELEKSPRES.COM – Aula Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas 1 Makassar, Abdul Kadir (30), sedang sibuk memasang resleting baju Hazmat. Ia begitu berhati-hati, takut meleset dan tidak sejajar.

Lengannya basah. Begitu juga lehernya. Wajar, suasana di dalam Aula memang panas, meskipun sejumlah kipas angin terus berputar. Mungkin karena siang hari.

“Sebelumnya tidak pernah kenal mesin jahit. Ini baru dua minggu ditraining. Orang dari Bandung yang bimbing. Susah sekali belajar jahit. Harus sabar,” ujarnya.

Abdul Kadir sendiri merupakan warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) kelas 1 Makassar. Ia terjerumus ke Bui setelah melakukan aksi pembunuhan di kampung halamannya, Kabupaten Bulukumba.

Ia mengaku divonis hukuman selama 13 tahun. Sangat lama. Tetapi Kadir siap menjalani hukumannya dengan sabar. Ia merasa bersyukur ada Lapas yang siap memberikan bimbingan untuk menjadi pribadi lebih baik.

“Vonis saya 13 tahun pak. Baru dijalani 11 bulan. Saya ditangkap karena kasus pembunuhan. Tapi bersyukur sih bisa sampai di sini,” jelas Kadir, sembari membenahi jahitannya.

“Mudah-mudahan nanti bisa jadi pengusaha konveksi setelah keluar,” harapnya sambil tersenyum.

Di tempat penjahitan APD tersebut, Abdul Kadir tidak sendiri. Ada 99 rekannya yang lain. Sebenarnya total tenaga penjahit ada 130 orang. Hanya saja, di tahap awal baru 100 orang yang dipekerjakan, termasuk Abdul Kadir.

Dalam sehari, produksi APD yang dihasilkan Abdul Kadir tidak menentu. Semua bergantung pada kekompakan kerjasama tim. Sebab di dalam tim, masing-masing penjahit diberi tugas berbeda-beda.

“Kalau jumlah produksi belum ada target pak. Tergantung dari belakang saja. Tugas saya kan cuma pasang resleting. Jadi tugas kita beda-beda,” terang Kadir.

Sesekali Kadir menegakkan punggung. Mungkin pegal. Ia juga terlihat mencuri-curi napas. Menghela dalam-dalam dan dikeluarkan secara perlahan.

Dia terlihat lelah, tetapi masih harus bertugas. Biasanya dia bekerja dari jam 8 pagi sampai jam 12 siang. Tetapi hari ini, Kamis (16/7/2020), Kadir masih harus bekerja meski jam sudah menunjukkan jam 3 lewat.

“Biasanya mulai jam 8 pagi sampai jam 12. Tapi hari ini kerja terus. Mungkin karena lagi ada acara,” ujarnya.

Diketahui, siang ini Lapas Kelas 1 Makassar sedang melakukan kegiatan Launching Pabrik Garmen di Aula Lapas Kelas 1 Makassar, jalan Sultan Alauddin, kota Makassar.Dulu Penjahat, Sekarang Penjahit
MAKASSAR, SULSELEKSPRES.COM – Di Aula Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas 1 Makassar, Abdul Kadir (30), sedang sibuk memasang resleting baju Hazmat. Ia begitu berhati-hati, takut meleset dan tidak sejajar.

Lengannya basah. Begitu juga lehernya. Wajar, suasana di dalam Aula memang panas, meskipun sejumlah kipas angin terus berputar. Mungkin karena siang hari.

“Sebelumnya tidak pernah kenal mesin jahit. Ini baru dua minggu ditraining. Orang dari Bandung yang bimbing. Susah sekali belajar jahit. Harus sabar,” ujarnya.

Abdul Kadir sendiri merupakan warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) kelas 1 Makassar. Ia terjerumus ke Bui setelah melakukan aksi pembunuhan di kampung halamannya, Kabupaten Bulukumba.

Ia mengaku divonis hukuman selama 13 tahun. Sangat lama. Tetapi Kadir siap menjalani hukumannya dengan sabar. Ia merasa bersyukur ada Lapas yang siap memberikan bimbingan untuk menjadi pribadi lebih baik.

“Vonis saya 13 tahun pak. Baru dijalani 11 bulan. Saya ditangkap karena kasus pembunuhan. Tapi bersyukur sih bisa sampai di sini,” jelas Kadir, sembari membenahi jahitannya.

“Mudah-mudahan nanti bisa jadi pengusaha konveksi setelah keluar,” harapnya sambil tersenyum.

Di tempat penjahitan APD tersebut, Abdul Kadir tidak sendiri. Ada 99 rekannya yang lain. Sebenarnya total tenaga penjahit ada 130 orang. Hanya saja, di tahap awal baru 100 orang yang dipekerjakan, termasuk Abdul Kadir.

Dalam sehari, produksi APD yang dihasilkan Abdul Kadir tidak menentu. Semua bergantung pada kekompakan kerjasama tim. Sebab di dalam tim, masing-masing penjahit diberi tugas berbeda-beda.

“Kalau jumlah produksi belum ada target pak. Tergantung dari belakang saja. Tugas saya kan cuma pasang resleting. Jadi tugas kita beda-beda,” terang Kadir.

Sesekali Kadir menegakkan punggung. Mungkin pegal. Ia juga terlihat mencuri-curi napas. Menghela dalam-dalam dan dikeluarkan secara perlahan.

Dia terlihat lelah, tetapi masih harus bertugas. Biasanya dia bekerja dari jam 8 pagi sampai jam 12 siang. Tetapi hari ini, Kamis (16/7/2020), Kadir masih harus bekerja meski jam sudah menunjukkan jam 3 lewat.

“Biasanya mulai jam 8 pagi sampai jam 12. Tapi hari ini kerja terus. Mungkin karena lagi ada acara,” ujarnya.

Diketahui, siang ini Lapas Kelas 1 Makassar sedang melakukan kegiatan Launching Pabrik Garmen di Aula Lapas Kelas 1 Makassar, jalan Sultan Alauddin, kota Makassar.

spot_img

Headline

spot_img
spot_img