SULSELEKSPRES.COM – Fahri Hamzah memberikan nasehat kepada pimpinan KPK Agus Raharjdo Cs terkait sikapnya beberapa hari terakhir.
Agus Cs diketahui menolak keras adanya revisi UU KPK, termasuk mengkritik proses penentuan pimpinan baru lembaga ini.
Fahri mengatakan, KPK adalah lembaga yang mesti ada batasan. Kekuatan KPK saat ini disebut sangat teramat besar.
“Kepada pimpinan KPK yang lama, belaku bijaklah. Jalan kalian salah. Cara kalian melihat KPK dan diri kalian salah. Kalian lembaga negara yang ada UU-nya dalam sebuah sistem bernegara yang baku. Kalian bukan presiden yang dipilih rakyat Indonesia. Tahulah batas kalian.” tulis Fahri melalui akun Twitternya dilansir Sulselekspres, Minggu, (15/9/2019).
Dengan kekuatan sebesar itu, KPK saya anggap memiliki kekuatan sebesar “wakil presiden ke-2 bahkan presiden dalam pemberantasan korupsi”. Karena KPK tidak saja dapat men-supervisi lembaga penegak hukum, tapi siapapun, bahkan seluruh cabang kekuasaan yg ada. Kuat sekali KPK.
— #2020ArahBaru (@Fahrihamzah) September 14, 2019
Untuk pimpinan KPK yang baru terpilih, Fahri berharap dapat menjadi teladan. Berlaku adil dan bijaksana.
“Pimpinan KPK yang baru harus memberi contoh kehalusan Budi karena hukum itu bukan milik manusia, dia Milik Tuhan yang dititipkan dengan syarat bahwa kalian para penegak hukum akan berlaku adil dan bijaksana. Berlaku lembut dan wara. Semua memerlukan keteladanan,” katanya.
Dalam ciutannya, Fahri juga menyampaikan kalau upaya pencegahan jauh lebih penting dari pada penindakan.
“Jangan kalian lupa bahwa tugas kalian mulia, untuk mengawal transisi. Bila kalian melihat di tengah jalan ada korupsi cegahlah. Gunakan atas hukum yang sudah berlaku lama. “Mencegah jauh lebih baik dari pada mengobati”. Itu kaedah hukum pidana sebagai “ultimum remedium”
“Penindakan adalah jalan terpaksa. Dan keterpaksaan gak harus terjadi jika sistem yang kalian diamanahkan terbentuk. Tapi karena gagal, akhirnya perkara numpuk dan kalian berburu di kebun bintang. Kawan sebangsa menjadi mangsa dan kita tertawa dalam upacara bunuh diri massal.” pungkasnya.



