MAKASSAR, SULSELEKSPRES.COM – Dua putra terbaik Sulsel, Syahrul Yasin Limpo (SYL) dan Andi Amran Sulaiman (AAS) berpotensi meramaikan bursa cawapres 2024.
Bagaimana kans dan persiapan keduanya? Peluang dua figur ini. Dr. Nurmal Idrus selaku Direktur Nurani Strategic Consulting berpandangan bahwa dua figur tersebut memuliki peluang diperhitungkan representasi Indonesia Timur.
“Menurut saya, geopolitik dengan latar belakang figur selalu menjadi salah satu kunci kemenangan di Pilpres,” ujar Nurmal Idrus.
ASS adalah Mentan periode 2014/2019. Memiliki prestasi gemilang, baik di dunia pertanian maupun usaha lainya. Sedangkan SYL adalah mantan Gubernur Sulsel dua peripde. Kini menjabat Mentan, jika dilihat kinerja selama menjadi kepala daerah SYL sudah dihitung di tingkat nasional.
Oleh sebab itu, menurut Nurmal yang juga mantan ketua KPU Kota Makassar itu. Pasangan dari wilayah Barat dan Timur menajdi strategis karena bisa menciptakan keseimbangan perolehan suara.
“Dalam konteks itu, Sulsel selalu menjadi barometer Indonesia Timur dengan figur-figur terbaiknya,” jelas Nurmal.
Dia berpandangam bahwa Pilpres 2024 mendatang juga tetap akan mengikutkan figur dari Sulsel sebagai pelengkap geopolitik calon dari Jawa. Dalam posisi itu, peluang SYL dan AAS menjadi sangat terbuka.
“Saya kira, jika berbicara peluang keduanya sangat bisa diandalkan dalam posisi level 02. SYL dan AAS bisa dianggap mewakili referensentasi wilayah Timur,” pungkasnya.
Sedangkan, Direktur Parameter Publik Indonesia (PPI) Ras MD menilai Pasca JK, yang menonjol saat ini tampil sebagai cawapres yang ramaibdiperbincangkan memang hanya dua figur saja. Syahrul Yasin Limpo dengan Andi Amran Sulaiman.
“Kedepannya, Sulsel akan tetap menjadi wilayah strategis dalam mencari cawapres potensial. Dan hanya ada nama SYL dengan AAS,” katanya.
Ditambahkan, jika kita komparasi kans keduanya. Maka SYL unggul 3 poin. Sedangkan ASS hanya dua poin saja keunggulannya. Artinya, SYL lebih potensial tampil sebagai cawapres ketimbang AAS.
Keunggulan SYL. Pertama, saat ini menjabat sebagai menteri. Kedua, mantan bupati dan juga mantan gubernur sulsel dua periode. Ketiga, ia kader partai nasdem.
“Sedangkan kans AAS. Pertama, mantan menteri pertanian. Kedua, dikenal sebagai pengusaha,” jelasnya.
Diketahui, survei Lembaga Riset Independen INDex Indonesia menampatkan tiga tokoh Sulawesi Selatan dalam survei kandidat calon wakil presiden 2024 pilihan wilayah Pamasuka.
Tiga nama tokoh politik Bugis Makassar itu yaitu mantan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Ketua Umum Partai Gelora Anis Matta, dan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo.
Hasil survei terbaru tokoh-tokoh kandidat calon presiden dan wakil presiden di wilayah Pamasuka meliputi Papua Maluku Sulawesi Kalimantan dirilis secara nasional, Kamis (10/9/2021) lalu.
Menanggapi hal tersebut, pengamat politik Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Andi Luhur Priyanto menilai eksperimen mendorong kandidat berbasis wilayah atau geopolitik harus diikuti basis politik ideologis.
Meski demikian, Luhur menilai, politik adalah perjuangan, setiap orang dan kelompok bisa memperjuangkan kemungkinan-kemungkinan untuk running di langgam Pilpres
“Sebab, tanpa basis politik ideologis, upaya mendorong figur berbasis wilayah sulit diakomodasi partai politik,” katanya.
Kedua, Luhur menilai kandidat cawapres berbasis wilayah yang dimunculkan harus punya basis dukungan partai politik yang jelas.
Dia mengatakan, Pilpres 2019 lalu memperlihatkan bahwa trend pemilihan figur Capres-Cawapres tidak lagi berbasis geopolitik atau wilayah dukungan. Karena ketika itu Joko Widodo menggandeng Ma’ruf Amin pada periode keduanya.
“Kecenderungannya telah bergeser pada politik berbasis kelas dan ideologis. Terutama untuk menyeimbangkan formasi politik nasionalis-religius, yang diwakili segmen Islam moderat,” jelasnya.
Wakil Dekan II Fisipol Unismuh itu menilai, kandidat dengan pendekatan geopolitik seperti seperti timur, barat atau tengah sudah tidak memadai dalam situasi fragmentasi politik yang berbasis kelas dan ideologis.
Apalagi fragmentasi itu telah diartikulasi pada pragmatisme kepentingan partai politik. Dengan demikian, eksperimen mendorong kandidat berbasis wilayah atau geopolitik.
“Tanpa basis politik ideologis akan sulit diakomodasi partai politik,” katanya. Terlebih lagi jika kandidat yang di endorse itu tidak memiliki basis dukungan partai politik yang jelas,” tuturnya.



