MAKASSAR, SULSELEKSPRES.COM – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dinilai tidak tepat disaat ekonomi dan nilai rupiah melemah saat ini.
Pengamat Ekonomi Universitas Bosowa (Unibos) Makassar, Lukman Setiawan, mengatakan, harga BBM Premium, Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite dan Pertamina Dex tidak bisa dinaikkan saat ini.
“Kenapa? Karena sama saja sistem pemerintahan saat ini dengan melihat kondisi rupiah melemah dan tiba-tiba BBM dinaikkan, maka sama halnya pemerintah mencekik masyarakat. Utamanya masyarakat menengah kebawah,” kata Lukman, Kamis (11/10/2018).
BACA: Harga Pertamax Naik Menjadi Rp10.400 Per Liter
Wakil Dekan Fakultas Ekonomi Unibos Makassar itu menambahkan, kondisi-kondisi seperti saat ini sebenarnya belum tepat dilakukan pemerintah dan persoalan kajian kenapa harus dinaikkan harus dikaji lagi dengan berbagai aspek.
Kenaikan BBM dari zaman ke zaman, lanjut Dr Lukman, salah satu contohnya, zaman SBY, ada delapan kali dan diketahui masyarakat. Beda halnya pemerintah saat ini, BBM dinaikkan secara tiba-tiba, hampir masyarakat tidak mengetahui hal itu.
BACA: BBM Naik, Demokrat: Mana Tangisan PDIP?
“Kemarin-kemarin Pertalite dan lain-lian dinaikkan, misalnya Pertamax dinaikkan secara diam-diam tanpa sosialisasi. Zaman SBY, menaikkan BBM tapi melakukan sosialisasi terlebih dulu. Parah sekali, ini menandakan ada kondisi terpuruk terhadap perekonomian Indonesia,” kata Lukman.
Tujuan BBM dinaikkan, kata Lukman, untuk mengurangi subsidi. Pengurangan subsidi itu mengakibatkan sektor-sektor lain meningkat, misalkan perbaikan infrastruktur dan lain-lain.
BACA: Dollar Makin Kuat, Rupiah Anjlok
“Tapi melihat kondisi saat ini tunggu dulu, apalagi situasi politik saat ini. Sebenarnya tidak ada kenaikan BBM jika pemerintah menciptakan sistim teknologi perminyakan yang bisa dikelola sendiri. Kita tidak lagi menjual minyak mentah, tapi mengelolah sendiri,” jelasnya.
“Pemerintah harus berupaya akan hal itu sembari menciptakan sektor-sektor yang tidak bergantung pada penggunaan bahan bakar yang begitu banyak,” pungkasnya.



