Kisah Sedih Korban Selamat KM Lestari Maju: Dimana Anakku Ma?

Kemarin, Jumat (6/7/2018), Jumriati yang sudah kembali ke rumahnya, di dusun Rita, Desa Bontokang, Galesong Selatan, Takalar, mendapat kabar dari Selayar.

Ansar dg. Gassing (41) Ayah Aditya, bertemu dengan pria yang menolong putranya di Selayar. Pria itu sangat meminta maaf atas tragedi ini.

Saat itu tubuh Aditya terlepas dari genggamannya. Kapal nelayan yang Ia tumpangi terhantam ombak.

“Bapaknya bilang kemarin ke saya, dia ketemu dengan itu orang, tapi katanya saya tidak bisa tolong, karena waktu jalloronya dihantam ombak,” kata Jumriati.

Setelah mengetahui Aditya tak kunjung ditemukan, adik Jumriati bersama sanak keluarga lainnya, melapor ke Posko Pengaduan yang berdiri di Pelabuhan Bira, Bulukumba.

Disana mereka bertemu dengan Arman, Kordinator Posko Pengaduan Pelabuhan Bira.

“Yang melapor itu, neneknya,” ujar Arman saat dihubungi sulselekspres.com.

Arman yang menerima laporan menuturkan, berdasarkan informasi yang Ia terima dari posko Selayar, Aditya memang dikabarkan menaiki perahu nelayan, namun Ia menekankan cerita itu masih berupa isu.

“Informasi dari sebelah (Posko Selayar), waktu evakuasi Mama dan kakak-kakaknya naik ke perahu nelayan, tapi waktu itu perahu nelayan yang mereka tumpangi menghantam karang, tapi ndak tau bagaimana cerita pastinya, yang penting itu isu yang beredar,” akunya.

“Tapi yang jadi masalahnya itu, apa betul Aditya ada di kapal itu,” kata Arman.

Sementara, Humas Basarnas Makassar, Hamsidar yang sedang berada di Selayar, terkait rimba Aditya, menjelaskan sampai sejauh ini masih Aditya yang belum dapat ditemukan.

“Sampai hari ini, dari informasi masyarakat baru Aditya, mudah-mudahan sisa itu,” ujarnya saat dihubungi.

Sampai hari ke-5 masa pencarian, penumpang yang telah dievakuasi ke darat berjumlah 202. 36 diantaranya meninggal dunia, sedang 166 lainnya dievakuasi dalam kondisi selamat.

Selain data manifest yang abu-abu, dari cerita Jumriati, dapat diketahui jumlah jaket pelampung yang disediakan KM. Lestari Maju tidak cukup untuk semua penumpangnya.

Penulis: Agus Mawan