Lantas mengapa?
Sebelumnya, Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (Purn) Moeldoko, beranggapan, bila penyerangan terhadap simbol agama, baik yang menyasar tokoh atau rumah ibadah dengan gaya seperti itu, memiliki akar sejarah tersendiri.
Moeldoko pula tak menampik, bila modus yang digunakan tak berubah seperti pada zaman Orde Baru silam.
“Itu model lama yang sudah lama dikenali. Hanya yang perlu didalami, siapa yang dibelakangnya itu,” kata Moeldoko setelah mengisi acara dialog mahasiswa yang diadakan oleh Unhas, di Baruga AP. Pettarani, Jalan Tamalanrea, Selasa 27 Februari 2018.
BACA: Slamet Ma’arif Jadi Tersangka, Pengacara: Tidak Ada Unsur Pelanggaran
Tahun 2018, publik melihat sejumlah rentetan kasus penyerangan terhadap simbol agama. Berbagai spekulasi yang mengaitkan peristiwa itu dengan domain politik pun bermunculan.
Moeldoko kala itu, juga berterus terang. Ia menduga, dengan melihat sequel kejadian tersebut, biasanya terjadi saat menjelang pemilu.
“Bisa saja menjadi ambisi-ambisi lain dengan melakukan segala cara. Karena ini menjelang pemilu dan pemilukada,” ungkap Moeldoko.



