25 C
Makassar
Wednesday, February 4, 2026
HomeMetropolisMulai Deperesi, Puluhan Imigran Kembali Sambangi Kantor UNHCR-IOM di Makassar

Mulai Deperesi, Puluhan Imigran Kembali Sambangi Kantor UNHCR-IOM di Makassar

- Advertisement -

Ia pun meminta bantuan masyarakat Makassar dan Indonesia untuk bersama-sama mendesak kepada pemerintah dan UNHCR-IOM agar memerhatikan nasib mereka.

Sama halnya dengan YA (29) pengungsi asal Sudan. Ia sudah berada di Makassar sejak tujuh tahun silam. YA begitu berapi menceritakan kisahnya. Namun terlihat jelas ia depresi dan kebingungan.

YA mengatakan, sejak meninggalkan Sudah sejak tahun 2013 lalu, ia tidak pernah lagi berkomunikasi dengan keluarganya. Ia pun sudah tak mengetahui kondisi keluarga di kampung.

Lebih jauh dikatakan, sejak beberapa tahun belakangan, YA mengaku sulit tidur. Pasalnya, jikapun tidur, ia selalu terbayang mengenai nasibnya. Sejak itu, YA mengaku hanya tidur tak lebih tiga jam sehari.

Bukan tanpa sebab YA mengalami hal seperti itu, kata YA, ia tak tahu apa yang mesti ia perbuat. Bekerja yang semestinya bisa membuatnya beraktivitas malah dilarang oleh pihak Migrasi. Sehingga aktivitasnya hanya makan dan tidur dalam kamar.

“Kami semua stres, tidak bisa berbuat apa-apa, dulu saya masih bisa keluar main bola, tapi sudah lama tidak bisa lagi, jadi saya di kamar makan tidur saja,” bebernya.

Ia pun mengaku tak bisa bersosialisasi dengan baik dengan warga Makassar. Dikarenakan dihalangi oleh pihak Migrasi dengan batasan jam malam ataupun diminta langsung untuk tidak berbicara dengan warga sekitar. Meski begitu, belakangan aturan tersebut ia lihat mulai longgar.

Nasib tak lebih baik juga mesti dialami RM (19), pengungsi asal Afganistan yang sejak anak-anak pada umur 13 tahun sudah mengungsi di Makassar. Ia terpaksa meninggalkan lima anggota keluarganya di kampung halaman akibat perang berkepanjangan.

Beban RM sebenarnya lebih berat, ia sejak kecil hanya memiliki sedikit teman sebaya. Apalagi, kata RM, teman seumurannya sudah diberangkatkan lebih dulu sejak tiga-lima tahun lalu bersama keluarga mereka.

Tak hanya merenggut masa anak-anaknya, hak akan pendidikan pun susah ia dapatkan. Bukannya tak ada, hanya saja, kata RM, ia tak bisa fokus belajar karena selalu memikirkan keluarganya di kampung.

“Saya mau belajar tapi tidak bisa fokus, saya ingat terus keluarga saya di kampung,” ucap RM.

RM pun memiliki sebuah keinginan, sederhana, ia ingin bekerja untuk membantu keluarganya di kampung. Namun RM mengaku, harapan itu ia pikir masih jauh. Sebab, sudah tujuh lalu ia berandai demikian. Nasibnya ia pikir tidak akan berubah jika tak kunjung memiliki status kewarganegaraan.

Selama aksi, sayangnya, tak ada seorang pun pihak UNHCR dan IOM yang menjumpai para pengungsi. Bahkan, menurut pengakuan AW, juga salah seorang pungungsi, sejak aksi mereka sekitar 20-an kali pada akhir tahun lalu hingga sekarang, pihak UNHCR dan IOM tak pernah sekali pun mau turun menemui pengungsi.

AW dan pengungsi lain pun mengaku kebingungan. Soalnya tak ada informasi yang jelas. Para pengungsi hanya mendengar desas-desus tidak jelas dari sesama mereka.

Bahkan, kata AW, jika para pengungsi menanyakan kepada para petugas UNHCR-IOM yang mendatangi rumah penampungan mereka, para pengungsi diminta untuk pulang saja ke negara asalnya.

“Kami disuruh pulang, bagaimana kami bisa pulang, Negara kami ada perang, kami lari karena ada perang, terus mereka juga tahan kami di sini,” beber AW.

Pernah terpikir oleh AW untuk pergi secara nekat ke Australia menggunakan kapal. Namun, ia selalu ditahan pihak UNHCR-IOM, ia diminta dengan tegas mesti diberangkatkan dengan pesawat.

Namun kata AW, sama seperti para pengungsi lain, ia sudah dijanjikan hal tersebut sejak tujuh yang lalu.

spot_img

Headline

spot_img
spot_img