25 C
Makassar
Thursday, February 19, 2026
HomeMetropolisNurdin Abdullah : Saya Dulu Jadi Bupati Karena Kecelakaan Politik

Nurdin Abdullah : Saya Dulu Jadi Bupati Karena Kecelakaan Politik

- Advertisement -

MAKASSAR, SULSELEKSPRES.COM – Gubernur Sulawesi Selatan, Nurdin Abdullah, turut hadir dalam agenda BRC Table Talk Jilid empat yang dilaksanakan oleh Bro Rifai Center.

Kegiatan yang mengangkat tema “Mencari Pemimpin Berwawasan Nusantara” ini adalah salah satu upaya BRC untuk memberikan edukasi politik kepada masyarakat.

Kegiatan yang dikemas dalam nuansa santai ini berlangsung di room Hotel Arya Duta, Jalan Somba Opu nomor 297, Losari, Kota Makassar, Jumat (12/4/2019) pagi.

BACA: Nurdin Abdullah Sebut KPK Masuk Beri Titik Terang

Dalam kesempatannya, Nurdin Abdullah menuturkan bahwa dirinya sama sekali tidak pernah bermimpi untuk menjadi seorang pemimpin. Dia bahkan mengatakan bahwa dirinya bisa menjadi bupati itu karena kecelakaan politik.

“Saya sama sekali tidak pernah mimpi mau jadi bupati. Kemarin saya jadi bupati karena kecelakaan politik,” ungkapnya disela-sela materi.

“Saya ini tidak pernah sekolah soal pemerintahan. Saya tahunya cuma mau sekolah dan mengabdi kepada rakyat,” ujar mantan bupati Bantaeng tersebut.

Nurdin Abdullah juga berkisah tentang cita-cita dan impiannya semasa menempuh pendidikan di Jepang.

BACA: Nurdin Abdullah Harap Kepsek Ikut Serta Perangi Hoax

“Niat saya belajar di Jepang dulu karena secara kebetulan terpilih. Ada dua ribu orang lebih, tetapi saya yang diberi kesempatan. Sejak saat itu saya berjanji mau membangun daerah saya dan memberi pekerjaan kepada dua ribu orang,” ia berkisah.

“Nah pada saat saya sudah selesai sekolah, saya mau pulang, eh malah dikasi uang dua juta limaratus dollar. Disuruh bikin pabrik. Ya saya bikin, dan saya pekerjakan orang di sana sebanyak 1.200 orang,” lanjutnya.

Sejak saat itu Nurdin Abdullah mulai dipercaya masyarakat dan diusung menjadi bupati Bantaeng.

“Dari sana, saya diusung masyarakat untuk jadi bupati. Saya sempat bertanya-tanya, tetapi ya sudahlah, saya harus jaga amanah dan membuktikan integritas saya. Jadi ini soal kecelakaan, bukan cita-cita,” lanjutnya.

Guru besar UNHAS ini juga mengatakan bahwa pemimpin sejatinya harus bisa mandiri, berintegritas tinggi, dan paham dengan kondisi rakyat.

“Jadi pemimpin harus punya integritas tinggi. Punya arah yang terang. Jadi pemimpin itu harus berani mandiri. Jadi pemimpin itu bukan untuk dilayani, tapi melayani. Makanya, jadi pemimpin itu jangan suka marah-marah,” tegasnya.

“Saya kalau kemana-mana selalu bawa koper sendiri. Tidak perlu dikawal. Karena pemimpin yang butuh dikawal itu berarti sudah bermasalah sejak awal,” tutupnya.

Penulis : Widyawan Setiadi
spot_img

Headline

spot_img
spot_img