MAKASSAR, SULSELEKSPRES.COM – Pengamat politik Universitas Muhammadiyah Makassar, Samsir Rahim, menyatakan pendapatnya terkait peta pertarungan pada Pilwali Makassar 2020 yang dianggap masih sangat dinamis.
Akan tetapi ia menilai hal itu tidak akan mengubah semangat awal mayoritas warga kota Makassar yang memang terlihat sudah menginginkan wali kota baru.
Hal itu tercermin dari sejumlah hasil survei yang telah dirilis, termasuk survei terakhir yang telah dikeluarkan oleh pihak SMRC.
Menurut Samsir, terlepas dari keunggulan pasangan calon Danny Pomanto-Fatmawati Rusdi, elektabilitasnya sebagai petahana atau setara dengan petahana, terbilang sangat kecil karena selalu di bawah angka 50%.
Hal itu mengindikasikan bahwa banyak warga kota Makassar yang menginginkan dipimpin baru. Dengan begitu, posisi DP sebagai petahana tentunya masih jauh dari kata aman.
“Hasil sejumlah survei, termasuk yang terakhir (SMRC) menunjukkan elektabilitas DP sebagai kandidat yang bisa dibilang berstatus petahana berada dalam bahaya. Tingkat keterpilihannya di bawah 50%. Itu alarm tanda bahaya yang artinya mayoritas warga Makassar menginginkan walikota baru, publik mau dipimpin figur baru,” ujarnya, Kamis (22/10/2020).
Diketahui, SMRC merilis hasil survei pada 21-25 September 2020 yang melibatkan 410 sampel dengan metode multistage random dan margin error lebih kurang 5%.
Hasilnya, elektabilitas ADAMA paling tinggi, dengan memperoleh angka 41,9%. Disusul Appi-Rahman 17,8%, Dilan 16,6%, dan IMUN di angka 6,8%. Sementara itu, responden yang belum menentukan pilihan sebesar 16,9%.
Samsir menambahkan, yang menarik dicermati dari survei SMRC tergambar pula bahwa hampir separuh warga atau 49% belum menentukan pilihan di Pilwali Makassar 2020.
Kondisi itu dinilainya membuat posisi DP sangat rapuh sebagai petahana. Besar kemungkinan, mereka yang belum menentukan arah dukungan akan condong golput atau memilih figur pemimpin baru.
“Survei terbaru itu (SMRC) memberikan gambaran jelas bahwa pertarungan di Pilwalkot Makassar 2020 masih sangat dinamis sekaligus menggambarkan posisi DP yang sangat rapuh sebagai petahana. Elektabilitasnya terbilang sangat rendah, ditambah lagi 49% warga belum menentukan pilihan,” jelasnya.
Lebih jauh Samsir menerangkan, DP harus kerja ekstra bila ingin kembali memimpin Kota Makassar untuk periode kedua. Hasil survei 41,9% jauh dari kata aman. Petahana yang kuat harus punya modal elektabilitas di atas 60%.
Bila tingkat keterpilihannya di bawah angka itu artinya bisa dilawan dan bila elektabilitasnya malah di bawah 50% menunjukkan posisi petahana mudah dikalahkan.
“Petahana baru dibilang kuat kalau elektabilitasnya di atas 60%. Hitungannya kalau popularitasnya di atas 80%, maka elektabilitasnya minimal 60%. Di bawah itu artinya petahana lemah bisa dilawan, kalau di bawah 50% ya lebih gawat lagi, itu menunjukkan petahana rampung dan mudah dikalahkan,” bebernya.
Meski demikian, Samsir mengungkapkan penantang juga butuh strategi jitu bila ingin menjungkalkan petahana. Terlebih, sisa waktu menuju pertarungan semakin sempit, kurang dari dua bulan.
“Posisi petahana sekarang rapuh dan publik kecenderungan menginginkan wali kota baru. Itu peluang bagi penantang, jika ingin menang ya harus cerdas memainkan taktik dan strategi,” tutupnya.



