30 C
Makassar
Tuesday, March 24, 2026
HomeMetropolisPlus Minus Program Makassar Recover Mengatasi Pandemi

Plus Minus Program Makassar Recover Mengatasi Pandemi

- Advertisement -

MAKASSAR, SULSELEKSPRES.COM – Makassar Smart Emergency Protocol Against Covid-19 and Service atau Makassar Recover merupakan salah satu program besar yang dicanangkan oleh pasangan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Makassar, Mohammad Ramdhan ‘Danny’ Pomanto dan Fatmawati Rusdi dalam menangani pandemi Covid-19.

Program yang resmi diluncurkan pada 5 Maret 2021 lalu ini diklaim sebagai gebrakan baru yang terintegrasi dalam data dan berbasis teknologi. Makassar Recover secara garis besar memuat tiga program yaitu penguatan imunitas, adaptasi sosial, dan pemulihan ekonomi, yang masing-masing memiliki beberapa sub program.

Saat meluncurkan Makassar Recover, Danny kala itu, membeberkan akan menggandeng 10 ribu relawan tim detektor, 6 ribu tenaga kesehatan, dan 306 dokter. Mereka diketahui bertugas melakukan penyaringan atau screening terhadap warga, guna memetakan warga yang sehat dan yang terdeteksi Covid-19.

Namun secara khusus, tim ini baru diluncurkan pada 2 Juli 2021, empat bulan berselang dari peluncuran Makassar Recover. Launching tim detektor dilakukan di Lapangan Karebosi, yang sayangnya saat itu justru menuai kritik dari publik karena menimbulkan kerumunan massa.

Sebuah video sempat beredar memperlihatkan suasana sebelum kegiatan launching dimulai. Ribuan warga berbaris dan berdesakan tanpa ada batasan jarak antara satu dengan yang lainnya. Hal ini jelas bertolak belajang dengan alasan utama peluncuran tim detektor tersebut.

Selain tim detektor, Danny juga sempat meluncurkan satuan tugas lain, yakni Satgas Covid Hunter dan Satgas Pengurai Kerumunan atau Raika.

Konsep Makassar Recover selalu mengutamakan basis data. Sehingga, dibuatlah tiga buah aplikasi yakni Makassar Recover, MR Detektor, dan MR Kontainer, yang dapat diunduh melalui Play Store dan AppStore untuk mendukung pelaksanaan program ini.

Sayangnya, aplikasi ini tidak bekerja maksimal. Padahal sejak awal, aplikasi ini yang digaungkan bakal melacak pergerakan orang serta menjadi mega sensus untuk membuat big data.

Status kesehatan masyarakat bakal diperiksa oleh para detektor, mulai dari suhu badan, tekanan darah, saturasi oksigen, hingga pemeriksaan menggunakan GeNose.

Informasi berbasis data tersebut kemudian dimasukkan ke Recover Center yang belakangan disebut Kontainer Makassar Recover yang berada di kelurahan, lalu data itu dimasukkan lagi ke command center (war room) lalu dianalisis jadi big data. Data inilah yang akan dihubungkan ke dalam aplikasi tiap pengguna.

“Inilah salah satu yang paling menarik. Kami akan menggunakan barcode dengan QR Code bagi seluruh masyarakat di Makassar berdasarkan NIK untuk mendeteksi status kesehatan mereka sekaligus membuat big data,” ungkap Danny kala itu.

Tak berhenti sampai di situ, dengan aplikasi tersebut indeks kepatuhan protokol kesehatan (IKPK) juga bisa diukur dengan label Platinum, Gold, Silver, dan
Red cross. Bahkan, ada reward (penghargaan) dan punishment (hukuman) berdasarkan label IKPK tersebut. Namun sayangnya, aplikasi ini tak berjalan maksimal, bahkan bisa disebut tak berproses sama sekali.

Alat GeNose pun bernasib tak jauh berbeda. Rencana awalnya,Pemkot bermaksud menggunakan alat GeNose untuk mendeteksi kesehatan warga melalui tim detektor.

Namun rencana tersebut tak berjalan mulus karena detektor juga terkesan jalan di tempat. Ditambah lagi tingkat akurasi alat tersebut diragukan. Alhasil, usai dipesan sebanyak 163 unit dengan harga Rp62 juta per unit, alat itu hanya tersimpan di dalam gudang supplai perlengkapan Makassar Recover.

Barulah pada bulan Oktober lalu alat itu digunakan pada siswa sekolah yang mengikuti simulasi pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas. Recover Center alias kontainer Makassar Recover yang disebut bakal menjadi pusat pelayanan covid di tingkat kelurahan juga tak berjalan sebagaimana mestinya. Hingga kini, masih ada beberapa kontainer yang belum rampung dikerjakan dari total

153 yang ditargetkan. Belakangan, proyek pengadaan kontainer diusut oleh Polda Sulawesi Selatan. Diduga proyek tersebut sarat korupsi. Fungsinya pun berubah. Selain jadi pusat layanan Covid-19, juga difungsikan sebagai posyandu, posko kebencanaan, hingga restorative justice atau tempat pertemuan jika ada pertikaian di masyarakat.

Dalam konsep Makassar Recover juga, Danny membuat kebijakan Senin-Kamis merupakan hari kerja dengan protokol kesehatan, Jumat waktunya work from home (wfh), dan Sabtu-Minggu ditetapkan sebagai hari rekreasi di rumah. Rekreasi yang dimaksud berbasis virtual yang dikonsep oleh para filmmaker, kreator, maupun event
organizer.

Tak ketinggalan, hari Selasa ditetapkan sebagai Hari Ojek Online atau Ojol Day, yang juga mendapat kritik dari masyarakat hingga akhirnya tak pernah terlaksana.

Pada awal bulan Agustus 2021, Danny melaunching program Isolasi Apung Terpadu di KM Umsini. Selain menjadi program pemulihan bagi pasien terkonfirmasi Covid-19 tak bergejala (asimptomatik), juga menjadi program training, motivasi, dan sarana rekreasi/refreshing bagi mereka yang menjalani isolasi. Tak bertahan lama, pada akhir September, kasus Covid-19 yang secara perlahan melandai membuat program isolasi apung dihentikan. Selama dua bulan berjalan, program tersebut menelan
biaya Rp2,5 miliar.

Di samping itu semua, program vaksinasi yang terus digencarkan oleh Pemkot Makassar perlu diapresiasi. Dalam kurun waktu setahun ini cakupan vaksinasi sudah nyaris mencapai 80 persen untuk dosis pertama dan 60 persen dosis kedua.

Sejumlah langkah ditempuh untuk meraih target herd immunity 70 persen vaksinasi. Mulai dari festival vaksinasi yang diresmikan oleh Presiden Joko Widodo secara langsung, kemudian vaksinasi 100.1.100, hingga vaksinasi door to door.

“Untuk imunitas kesehatan itu sudah berhasil, dibuktikan dengan capaian vaksinasi yang sudah melampaui 70 persen,” ujar Danny.

Sementara, Humas Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Makassar, Wachyudi Muchsin menilai, Makassar Recover adalah program yang melibatkan banyak stakeholder didalamnya. Sehingga, yang perlu difokuskan adalah output dari program tersebut terlepas dari segala kekurangannya.

“Terlepas dari segala kekurangannya, saya melihat output dari program yang melibatkan banyak stakeholder ini. Angka kasus menurun, nilai positivity rate di bawah 1, vaksinasi juga baik, diharapkan ini bisa dipertahankan,” bebernya.

“Tidak perlu program mercusuar, yang dibutuhkan adalah tindakan-tindakan agar penerapan protokol kesehatan ini bisa jadi kebiasaan baru di masyarakat. Karena itu juga jadi langkah preventif agar tidak tercipta kasus baru,” ujar Wachyudi.

spot_img

Headline

spot_img
spot_img