Rika Safira, Komandan Pelepas Orangutan di Kalimantan

Bukan hal mudah menuju lokasi pelepasliaran orangutan di Hutan Kehje Sewen. Foto: BOSF-RHOI 2017

Dukungan keluarga

Kedua orangtua Rika pernah khawatir melihat anak perempuannya sering keluar masuk hutan. Alasannya adalah keselamatan. Pasalnya, banyak beredar cerita, hutan Kalimantan adalah hutan Rimba yang di dalamnya banyak binatang buas. “Dulu waktu pertama kerja, ibu sangat khawatir. Namanya orangtua tentu akan merasa takut anaknya berlama-lama di hutan. Tapi saya yakinkan, saya akan baik-baik saja. Sebab, walau pekerjaan itu sulit, Tuhan akan selalu melindungi orang-orang yang berniat baik untuk kebaikan sesama,” jelasnya.

Seiring waktu berjalan, lanjut Rika, kedua orangtuanya tidak lagi khawatir ketika ia harus berada di dalam rimba. “Walau mandiri, orangtua tetap mencari. Kabar dan komunikasi itu tidak boleh putus, apapun yang saya lakukan akan saya ceritakan. Misalnya, masuk hutan melewati sungai dan gunung yang terjal. Dulu orangtua kaget, tapi sekarang senang mendengar pengalaman-pengalaman itu.”

Rika sudah yakin dengan pilihannya, bekerja untuk penyelamatan orangutan. Rika juga sudah terbiasa berjalan kaki belasan kilometer di dalam hutan. Hal ini juga yang membuatnya terpilih menjadi komandan pelepasliaran orangutan di Kehje Sewen. “Semua dari hati dan niat. Kita kembalikan saja, untuk apa kita ada di sini. Saya sudah terbiasa naik mobil tak berpintu, menyusuri sungai yang arusnya deras, berpapasan hewan buas, bahkan berjalan di tepi jurang licin. Semua saya lakukan untuk orangutan dan hutan yang kita butuhkan,” pungkasnya.

Sumber: mongabay