SULSELEKSPRES.COM – Pihak TNI secara tegas membantah adanya penembakan terhadap warga sipil dan penggunaan bom fosfor dalam operasi yang dilakukan di Nduga, Papua. Ini setelah peristiwa pembunuhan pekerja PT Istaka Karya di Nduga, beberapa waktu lalu.
Kepala Penerangan Kodam XVII/Cendrawasih, Kolonel Inf Muhammad Aidi menyebut dugaan penggunaan senjata pembunuh massal seperti bom fosfor tidak benar.
“Tidak mungkin ditembakkan ke suatu area yang di situ ada pasukan kita [TNI]. Nah, itu agak konyol, berarti kita ikut juga mati,” ujarnya dilansir dari CNNIndonesia.com, Sabtu (22/12/2018).
Baca Juga:
Sebelum 1 Desember, Tindakan Persekusi Ormas Dialami Mahasiswa Papua di Makassar
Jokowi: TNI-Polri Tangani Kasus Penembakan Pekerja Infrastruktur di Papua
Aidi menjelaskan jangkauan dampak yang disebabkan oleh bom fosfor sangat luas dan sifatnya menimbulkan kebakaran.
Oleh karena itu, jika benar telah digunakan bom fosfor, Aidi mempertanyakan seharusnya seluruh Nduga dan mahluk hidup yang ada di dalamnya ikut mati atau paling tidak luka berat dan cacat seumur hidup.
Ia mengatakan foto yang diklaim oleh surat kabar asal Australia, The Saturday Paper, yang menuding penggunaan bom fosfor tidak menunjukkan luka bakar pada korban.
“Termasuk manusia, makanya lukanya luka terbakar. Kalau yang ditunjukkan di gambar luka terbakar, loh, yang terbakar dari mana?” katanya.
Baca: Persekusi Hingga Pembubaran Unras Mahasiswa Papua di Makassar Oleh Ormas
Aidi pun menyebut berita tersebut adalah berita bohong atau hoaks. Ia mengatakan kelompok bersenjata di Papua sedang gencar menyebarkan propaganda agar masyarakat melupakan pembantaian 28 orang pekerja pada awal Desember lalu.
Ia mengklaim pembuat berita bohong tersebut adalah mereka yang tidak mengerti soal karakteristik senjata dan penggunaannya.
Aidi mengatakan alat utama sistem persenjataan (Alutsista) milik TNI yang ada di Papua tidak sesuai dengan kebutuhan penggunaan bom fosfor yaitu senjata meriam artileri berat.
“Alutsista TNI yang ada di Papua hanya pesawat Helly Angkut jenis Bell, Bolco dan MI-17. Tidak ada pesawat serbu apalagi pengebom,” katanya.
Aidi juga membantah soal penembakan terhadap masyarakat sipil. Ia menegaskan TNI tidak pernah menyerang kecuali sebelumnya diserang oleh kelompok bersenjata tersebut.
Baca: Video: Saat Sebelum 4 Mahasiswa Dianiaya oleh Oknum Polisi di Asrama Mahasiswa Papua
Hal ini karena menurutnya semua jenazah penembakan oleh TNI yang ditemukan di Nduga berasal dari kelompok separatis.
Jenazah-jenazah tersebut kata Aidi, bisa saja diklaim sebagai masyarakat sipil karena kelompok bersenjata itu tidak memiliki identitas atau senjata tertentu seperti tentara untuk diidentifikasi.
“Tidak bisa dibedakan kecuali punya senjata. Itu bisa berbentuk rakyat biasa juga bisa menggunakan baju pemerintah daerah, bisa juga menggunakan baju anggota dewan atau aktivis HAM,” ujarnya.



