SULSELEKSPRES.COM – Cendikiawan muslim Nahdatul Ulama (NU) Ayang Utriza menyindir Mantan Panglima TNI, Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo yang menyatakan ada penyusupan paham komunisme ditubuh TNI.
Ayang Utriza mempertanyakan kesehatan Gatot lantaran dianggap menginap penyakit tahunan jelang 30 September.
“YM. Bapak @Nurmantyo_Gatot: Bapak sehat? Sudah divaksin anti-Covid-19?” kata Ayang melalui akun media sosial Twitternya, (27/9/2021).
“Apakah Bapak juga sudah disuntik vaksin merek “biar-cerdas” u/menghindari sakit tahunan flu jenis ‘September 30’?” tambahnya lagi.
Seperti banyak diberitakan, Gatot memberikan pernyataan kontroversial soal paham komunis dalam insitusi TNI.
Gatot menyebut sampai saat ini paham komunis dan PKI masih ada meski selalu dibantah oleh berbagai pihak. Gatot menyampaikan hal tersebut lewat acara webinar yang berjudul ‘TNI Vs PKI’ pada Minggu (26/9).
Gatot menyinggung terkait masih ada-tidaknya PKI saat ini. Dia menegaskan komunisme saat ini di Indonesia masih ada meski selalu dibantah berbagai pihak.
“Pertanyaan tadi yang sangat ditunggu, masih adakah komunisme? Jawabannya jelas masih ada, dan terhadap apa yang saya sampaikan tentang PKI tentu selalu ada yang membantah dengan berbagai cara dan pendekatan, bagi saya itu sah-sah aja di negara demokrasi. Menghadapi komunis hari ini, sangat benar bahwa PKI sebagai organisasi sudah dibubarkan, benar pula hari ini ideologi komunis sudah tidak laku di dunia, tetapi pengalaman di Indonesia merupakan fakta yang tak terbantahkan bahwa PKI dengan serta-merta mudah saja melakukan pemberontakan,” ujarnya seperti dilansir dari detikcom.
Gatot lantas memberikan bukti-bukti masih adanya PKI di Indonesia lewat insiden perusakan museum Kostrad. Dia menyebut dalam museum tersebut terdapat sejumlah bukti peristiwa penumpasan komunisme, seperti patung yang dihilangkan.
“Bukti nyata jurang kehancuran itu adalah persis di depan mata, baru saja terjadi adalah Museum Kostrad, betapa diorama yang ada di Makostrad, dalam Makostrad ada bangunan, bangunan itu adalah kantor tempatnya Pak Harto (Soeharto) dulu, di situ direncanakan gimana mengatasi pemberontakan G30SPKI di mana Pak Harto sedang memberikan petunjuk ke Pak Sarwo Edhie sebagai Komandan Resimen Parako dibantu oleh KKO,” pungkasnya.



