MAKASSAR, SULSELEKSPRES.COM – Penyandang disabilitas yang menjadi korban pemerkosaan dan penjualan tubuh. Saat disekap selama sebulan menjadi budak sex dan penghasil pundi-pundi dengan diperdagangkan di kolega pelaku yang ingin melampiaskan hasratnya.
Ayah Korban, AG (56), mengatakan bahwa anaknya yang merupakan orang dengan kebutuhan khusus tersebut mengaku telah dijual oleh pelaku kepada kolega NS (26) beberapa kali sejak disekap pada Oktober lalu.
“Dia mengaku dijual kepada teman pelaku dengan harga beragam mulai Rp400 ribu hingga Rp700 ribu. Tapi, belum tahu berapa kali sudah dijual,” katanya, saat dikonfirmasi, Selasa (27/11/2018).
BACA: Korban Penyekapan dan Pemerkosaan di Tamalate Penyandang Disabilitas
Dia mengaku mengetahui hal itu, setelah berbicara dari hati ke hati dengan anaknya yang merupakan penyandang disabilitas tersebut. Dia juga mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh pelaku merupakan tindakan yang keji.
“Ini sangat keji. Anak itu saya rawat seperti anak bungsu karena dia sangat membutuhkan perhatian lebih daripada adiknya,” katanya lagi.
Dengan, mata yang berkaca-kaca menahan kesedihannya, pensiunan PNS Dinas Kehutanan tersebut, juga mengatakan bahwa korban yang merupakan anak ketiga dari sembilan bersaudara tersebut meninggal rumah sejak Oktober lalu dengan alasan menjenguk temannya yang sakit.
BACA: Kasus Pemerkosaan Penyandang Disabilitas, Polisi: Ada Indikasi Perdagangan Orang
“Terakhir sebelum hilang itu dia minta uang untuk menjenguk temannya yang sedang sakit. Sejak saat itu sudah tidak pulang mi,” jelasnya.
Padahal, anak perempuan lulusan Sekolah Luar Biasa (SLB) Pembina di Parangtambung tersebut merupakan anak yang cerdas. Dan pernah mewakili Provinsi Sulsel. Dia selalu kembali saat keluar dengan temannya.
“Saya dengan ibunya tidak kenal siang dan malam mencari selama dua minggu. Setelah tidak tahu mencari kemana baru lapor polisi 10 November lalu,” katanya lagi.
BACA: Ikuti Perpaprov IV, Atlet Penyandang Disabilitas Parepare Siap Raih Prestasi
AG juga menjelaskan bahwa dirinya bersama dengan istrinya sudah mencari ke seluruh teman yang biasa ke rumah korban untuk bermalam maupun yang biasa bersama NT keluar untuk sekedar nonton dan makan.
“Kami baru tahu dia disekap saat dia (korban) menelpon video call dengan adiknya. Dan direkam oleh adiknya lalu diberikan ke pihak kepolisian,” jelasnya lagi.
Lanjutnya, korban yang pernah bekerja di Carefour melalui program perusahaan yang menerima penyandang disabilitas tersebut membawa telepon genggam, hanya saja telepon itu dipegang oleh pelaku. Dan baru bisa korban gunakan ketika pelaku sedang tidur.
“Sempat menangis minta dijemput saat pelaku tidur. Dia bilang dikuncikan pintu dan dipukul. Awal november mengirim foto pelaku. Dan memberitahu bahwa jangan d chat krn jika ketahuan saya akan di pukul,” ungkapnya dengan nada sedih.



