25 C
Makassar
Sunday, February 22, 2026
HomeOlahraga5 Alasan Pelatih Klub Liga Indonesia Sering jadi Korban Pemecatan

5 Alasan Pelatih Klub Liga Indonesia Sering jadi Korban Pemecatan

- Advertisement -

SULSELEKSPRES.COM – Pemecatan pelatih tampak sudah menjadi tren terhadap klub Liga Indonesia.

Hampir setiap musim, tak banyak pelatih yang mampu bertahan lama kala menukangi sebuah klub. Di musim 2019 ini sendiri, sudah banyak pelatih yang harus out dengan berbagai alasan (dipecat/mengundurkan diri)

Di Liga 1 sudah ada 8 pelatih yang diganti, yaitu: Ivan Kolev, Jackson Tiago, Aji Santoso, Luciano Leandro, Syafrianto Rusli, Jan Saragih, Jafri Sastra, Djanur.

Sementara itu di Liga 2 ada 8 pelatih, yaitu Vladimir Vujovic (psim), Agus Yuwono (persis), Herry Setiawan (psgc), Purwanto Suwondo (persibat), Bona Simanjuntak (psps), Freddy Muli (persibat), Salahudin (Persiba), Eduard Tjong (Madura FC).

Mengapa hal ini sering terjadi?
Berikut 5 alasan dikutip dari akun instagram @pengamatsepakbola.

1. Pelatih selalu disalahkan

Tim bermain buruk/ tidak pernah menang maka vonis akan jatuh ke pelatih. Tidak salah juga sih, namun sebaiknya klub juga berkaca pada kualitas pemain / manajemen klub sendiri. Tidak selalu performa klub jelek karena pelatih

2. Ingin meraih hasil instan

Baik suporter dan klub di Indonesia selalu ingin meraih hasil bagus dengan waktu cepat. Tentu saja ini sulit dicapai kecuali klub tersebut sangat kaya dan mampu membeli pemain apapun

3. Target terlalu tinggi

Klub Indonesia rata2 memiliki target terlalu tinggi, namun tidak menyadari bahwa skuadnya pas-pasan sehingga pelatih yang jadi korban jika target tidak tercapai

4. Desakan Suporter

Jika suporter sudah kecewa, masuk lapangan dan melakukan protes ke manajemen, maka biasanya pelatih yang akan dikorbankan setelah melakukan evaluasi. Lihat saja beberapa kejadian di Liga 1. Beberapa klub tidak tahan atas desakan suporter

5. Kebijakan transfer pemain
Pelatih tidak cocok kepada pemain yang direkrut. Biasanya pemain sudah datang lebih dulu, lalu pelatih baru datang, tentunya sangat sulit bagi pelatih tersebut menerapkan pola permainan yang diinginkannya. Lihat saja Robert Alberts di Persib musim ini

Banyaknya kasus pemecatan pelatih ini dikritik oleh Djajang Nurjaman yang baru saja dipecat oleh Persebaya. Menurut Djanur, hal ini sudah menjadi kebiasaan buruk di sepakbola Indonesia

Dari 8 klub Liga 1 yang berganti pelatih, tidak semuanya performa timnya langsung baik.

spot_img

Headline

spot_img
spot_img