MAKASSAR, SULSELEKSPRES.COM -Keberadaan Bank Syariah di Indonesia selama ini kerap dianggap sebagai Perbankan alternatif. Mayoritas masyarakat masih lebih dominan memilih bank konvensional sebagai opsi pertama, khususnya dalam hal berinvestasi.
Hal ini dibuktikan dengan tingkat market value atau nilai jual Bank Syariah di tengah-tengah masyarakat yang hanya berada di angka 6,18 persen saja. Rendahnya angka market value ini bisa menjadi tolok ukur minat masyarakat terhadap Bank Syariah.
Bahkan, Komisaris Bank Syariah Indonesia (BSI), Arief Rosyid, mengatakan jika tingkat pemahaman masyarakat terkait konsep dan sistem bank syariah serta keuangan syariah masih berada di bawah angka 10 persen.
“Orang yang paham tentang ekonomi dan keuangan syarian baru di angka 8,9 persen. Sementara market value nya baru berada di angka 6,18 persen,” ujar Arief.
Atas dasar inilah, Arief bertekad membawa Bank Syariah menjadi perbankan nomor satu di Indonesia. Sebab, menurutnya ada banyak manfaat yang bisa diperoleh dari bank syariah.
Untuk mewujudkan tujuan tersebut, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan mengambil langkah strategis dengan menggabungkan (merger) semua perbankan syariah menjadi satu, yaitu Bank Syariah Indonesia.
Upaya ini dilakukan untuk menyatukan visi, misi, juga menyelaraskan program serta metode, agar masyarakat bisa memahami lebih maksimal terkait kesadaran akan pentingnya Bank Syariah.
Salah satu target masif adalah kalangan milenial, dengan memanfaatkan teknologi. Hal ini sekaligus membantah mindset publik yang selama ini menganggap bank syariah adalah bank yang cenderung menggunakan sistem lama.
“Kita target milenial. Kan ada 62,8 persen anak muda di Indonesia. Mereka akan kita gaet melalui hal-hal yang dekat dengan mereka, seperti halnya teknologi. Bank Syariah sendiri sudah menggunakan teknologi, bahkan menuju Bank 5.0,” jelas Arief.
Dengan begitu, Arief mengaku, Bank Syariah bakal memberikan ruang sebesar-besarnya kepada Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Selain itu, keterlibatan anak muda dalam mengembangkan perekonomian juga cukup diutamakan.
“Bank Syariah Indonesia akan memberi porsi besar untuk UMKM. Kita juga akan libatkan anak-anak muda. Saat ini, setidaknya ada 72 persen lebih anak muda yang terlibat di Bank Syariah Indonesia,” bebernya.
Melalui metode-metode tersebut, Arief meyakini Bank Syariah Indonesia bakal menguasai pangsa pasar Perbankan nomor satu di Indonesia. Meskipun, hal itu dinilai masih cukup sulit untuk saat ini.
“Metodenya sekarang sudah satau, yaitu Amanah, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kompeten (AHLAK). Tetapi, kita masih berusaha beradaptasi. Karena kan ada 20 ribu orang lebih yang harus kita handle di internal,” lanjutnya.
Meski begitu, Arief meyakini Bank Syariah bisa berjembang dengan cepat. Hal itu juga dibuktikan dengan pertumbuhan mereka yang berada di angka 10,13 persen. Angka ini lebih besar dari bank konvensional yang hanya berada di angka 7,59 persen saja.
“Semester satu 2020 tumbuh 10, 13 persen secara tahunan. Sementara bank konvensional hanya di angka 7,59 persen,” tutupnya.
Bank Syariah Indonesia sendiri merupakan gabungan dari Bank Mandiri Syariah yang memiliki saham di kisaran 51 persen, BNI dan BRI Syariah di angka 40 persen lebih.
Bank Syariah Indonesia ini baru akan diterapkan dan mulai beroperasi pada tanggal (1/2/2021) mendatang.



