MAKASSAR, SULSELEKSPRES.COM – Pagi tadi, Minggu (28/3/2021), Daeng Oma (80) sedang melayani pelanggan. Ada empat pelanggan yang duduk di lapak jualannya, 1 perempuan dan 3 laki-laki.
Perempuan usia senja itu memang setiap harinya berjualan di area Kanrerong, salah satu pusat pedagang kaki lima di kota Makassar, tepatnya di pinggiran Lapangan Karebosi, jalan R.A Kartini, tepat di sudut Gereja Katedral Makassar, lokasi terjadinya aksi teror bom bunuh diri.
“Tadi saya layani pelangganku. Ada empat pelanggan. Ada yang makan, ada yang ngopi. Karena istrinya (salah satu pelanggan) melahirkan di Rumah Sakit,” kata Oma, sembari menunjuk Rumah Sakit Ibu dan Anak, tepat di seberang lapaknya.
Saat mendengar ledakan, Oma mengira itu terjadi di udara. Ia terkejut, langsung lemas, tapi merasa was-was. Ia merunduk, mencoba memegang apa saja yang bisa diraih.
Beberapa saat kemudian, orang-orang riuh berlarian. Udara pagi yang segar, seketika berubah. Dipadati kepulan asap, juga bau hangus yang menyengat.
”Saya kira di atas, pesawat jatuh. Ternyata bom. Saya gemetaran, lemas, saya paksa berdiri. Orang-orang lari semua, mulai berkerumun di lokasi ledakan.”
”Asapnya tebal. Sampai di depan sini. Ada bau gosong juga. Ternyata bom bunuh diri,” Oma berkisah kepada Sulselekspres.com dengan nada terbata-bata.
Daeng Oma mengaku, selama ini lokasi Kanrerong terbilang aman. Tidak pernah ada kejadian kekerasan, apalagi teror bom. Ia juga tidak mencurigai siapa saja yang datang ke lapaknya.
”Selama inj aman. Tidak pernah ada kejadian. Tidak ada juga yang mencurigakan. Jadi kita semua kaget,” jelas perempuan itu.
Beberapa saat setelah kejadian, pihak keamanan mulai melakukan olah TKP. Area sekitar disterilkan. Empat penjuru jalur lalu lintas (Jalan R.A Kartini, Jalan Kajaolalido, Jalan Bottolempangan, dan Jalan ke arah Katedrak dari arah Taman Macan) ditutup dengan garis polisi.
Aparat dengan senjata lengkap berjaga di area kejadian. Mobil pengaman, kendaraan pemadam, sampai ambulance, disiagakan di sekitar lokasi. Di TKP juga tampak terlihat Walikota Makassar, Mohammad Ramdhan Pomanto.
Hari semakin siang. Terik kian menyapa, namun tidak ada yang berubah. semua masih was-was. Dalam keadaan yang masih menyisakan rasa tegang, pihak kepolisian setempat, dalam hal ini Polrestabes Makassar, mencoba memberikan keterangan awal kepada awak media.
”Kejadiannya sekitar pukul 10.35 Wita, terjadi ledakan bom yang diduga pelaku bom bunuh diri, di depan Gereja Katedral jalan Kajolalido, kota Makassar,” jelas Kabid Humas Polrestabes Makassar, Kompol Edy.
”Sementara ini data awal kami. Saat ini kita sedang menangani, menjaga parimeter dan penanganan TKP. Ada satu korban tewas yang dipastikan sebagai pelaku bom bunuh diri tersebut, kemudian ada 9 masyarakat, 5 petugas gereja, dan 4 jemaah yang saat ini sedang dalam perawatan,” lanjut Edy.
Edy juga mengatakan, saat ini pihaknya sedang bekerjasama dengan Detasemen Khusus (Densus) 88 dalam melakukan olah TKP dan mengumpulkan barang bukti di lapangan.
”Kita juga sedang bersama-sama dengan Densus 88, melakukan olah TKP dan mengumpulkan bukti-bukti yang ada,” tutup Edy.
Berdasarkan informasi sementara pihak Kepolisisan, ledakan ini terjadi saat jemaah Gereja baru saja melakukan ibahah Minggu Misa, dan melakukan persiapan Paskah.
Sementara untuk sembilan korban ledakan ini dilarikan ke RS Pelamonia (4 orang), RS Stella Maris (3 orang), dan dua lainnya dirawat di RS Bhayangkara.



