25 C
Makassar
Sunday, March 29, 2026
HomeRagamKenali 15 Penyebab Impotensi pada Pria

Kenali 15 Penyebab Impotensi pada Pria

- Advertisement -

4. Mengonsumsi Obat-Obatan

Mengkonsumsi obat-obatan tertentu dapat memengaruhi aliran darah yang dapat menjadi penyebab impotensi. Namun, jangan berhenti minum obat tanpa izin dokter, meskipun itu diketahui menyebabkan impotensi.

Contoh obat-obatan yang diketahui menyebabkan impotensi, termasuk alpha-adrenergic blockers, beta-blocker, obat kemoterapi kanker, diuretik, selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs), dan hormon sintetis.

5. Stres

Faktor lain yang bisa mengurangi kejantanan pria adalah psikologis. Dalam hal ini, lebih tertuju pada stres. Tekanan mental ini bisa membuat otak mengalami kesulitan membuat koneksi saraf dan melepaskan hormon yang berfungsi untuk menyebabkan ereksi. Sebab, saat sedang stres, produksi hormon testosteron dalam tubuh terganggu.

Contoh stres termasuk depresi, kecemasan, konsumsi pornografi yang berlebihan, dan bahkan gangguan tidur. Untungnya kondisi ini dapat diatasi dengan perawatan yang tepat.

6. Penyakit Endokrin

Sistem endokrin tubuh menghasilkan hormon yang mengatur metabolisme, fungsi seksual, reproduksi, dan suasana hati. Diabetes adalah contoh penyakit endokrin yang dapat menjadi penyebab impotensi. Ini karena diabetes memengaruhi kemampuan tubuh dalam menggunakan hormon insulin.

BACA: Catat, 4 Penyebab Impoten Bagi Pria

Salah satu komplikasi yang terkait dengan diabetes kronis adalah kerusakan saraf. Kondisi ini memengaruhi sensasi pada penis. Komplikasi lain yang terkait dengan diabetes, yakni gangguan aliran darah dan kadar hormon yang dapat berkontribusi terhadap impotensi.

7. Diabetes

Diabetes adalah penyakit yang menimbulkan banyak masalah kesehatan, disfungsi ereksi adalah salah satu dari sekian masalah yang mungkin dialami penderita diabetes. Semakin lama seseorang menderita diabetes (baik tipe 1 atau tipe 2), semakin besar kemungkinan mengalami impoten.

Disfungsi ereksi yang disebabkan oleh diabetes sepenuhnya tidak dapat disembuhkan, tetapi dapat membuatnya jauh lebih baik atau kecil kemungkinannya terjadi dengan mengikuti saran dokter untuk mengontrol gula darah.

spot_img

Headline

spot_img
spot_img