27 C
Makassar
Wednesday, February 4, 2026
HomeEdukasiMakna Hari Santri Menurut Dosen Syariah IAIN Parepare

Makna Hari Santri Menurut Dosen Syariah IAIN Parepare

- Advertisement -

PAREPARE, SULSELEKSPRES.COM – Hari Santri Nasional (HSN) yang jatuh pada (22/10/2018), dirayakan dengan berbeda-beda. Mulai dari upacara, Porseni dan berbagai kegiatan lainnya.

Salah seorang akademisi Institusi Agama Islam Negeri (IAIN) Kota Parepare, Budiman Sulaeman, memberikan sudut pandang berbeda dalam merayakan HSN.

Budi memberi penjelasan bahwa konon kata “santri” berasal dari “san” dan “tri”. “San” itu “SANubari” yang berarti hati atau batin, nurani dan perasaan batin. Sementara “tri” berarti tiga.

BACA: Irwan Kurniawan Maknai Hari Santri Dengan Doakan Ulama

Budi menjabarkan, kata santri dapat bermakna kesadaran yang berurat berakar dalam diri seseorang, dengan tiga relasi sekaligus di antaranya, Tuhan, manusia dan alam. Untuk membangun kesadaran tersebut, kata dia, tentu harus melalui pola pembinaan yang intensif, berkelanjutan dan penuh ketulusan. Dari situ, katanya, lahir komitmen kuat dari para masyayikh, asatidz, kyai, “(Anre) Gurutta” atau para mahasantri untuk membuka lembaga pendidikan yang dikenal dengan pesantren.

“Bahkan jika dikaitkan dengan “santri” dan “pesantren”, maka keduanya ibarat sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Santri adalah sosok manusia yang memiliki kesadaran kuat, yang sudah membatin dalam hubungannya dengan Allah, sesama manusia maupun dengan lingkungan sekitarnya. Sementara, kata pesantren merupakan kawah candradimuka santri menimba ilmu dalam rangka upaya pengukuhan kesadaran itu,” paparnya.

BACA: Presiden Jokowi Ikuti Istigasah Kubra dan Kirab Santri

Budi yang juga Dosen Fakultas Syariah IAIN Parepare tersebut menerangkan, Pesantren atau ma’had terambil dari bangunan huruf ‘ain, ha dan dal, yang berarti “janji” atau “komitmen”. Kata ini, jelas dia, menunjuk pada tempat, dan oleh karena itu, ma’had adalah tempat merajut komitmen.

“Hari santri yang diperingati setiap 22 Oktober sejak 2015 lalu, menjadi penting sebagai wadah refleksi bagi santri dan bangsa untuk mengenang kembali sejarah perjuangan kaum santri. Itu penting karena lintasan sejarah akan memberikan bekal bagi para santri saat ini untuk berbenah, meningkatkan kualitas diri demi kemajuan bangsa,” ungkapnya.

BACA: Beasiswa Santri Berprestasi segera Dibuka, Makassar Hanya di UIN Alauddin

Budi menjelaskan, denga zaman dengan segala konsekuensinya yang menuntut anak bangsa, terutama santri dan pengelola pondok pesantren untuk membangun komitmen kuat, itu dalam rangka menangkal arus informasi dan ‘tsunami’ pemikiran yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur, kultur dan karakter bangsa.

Lebih jauh Budi menjelaskan, bahkan secara morfologis, terma “modern” lebih dekat pelafalannya dgn kata “mudhirrun” yang dapat dimaknai “sesuatu yg membahayakan”. Hal itu, lanjut dia, bermakna bahwa zaman modern mesti disikapi secara cerdas nan arif agar masyarakat, khususnya generasi muda tidak tergilas oleh pengaruh negatifnya.

“Walhasil, (hari) santri dapat dimaknai upaya penyatuan komitmen jihad (kesungguhan), dan kesadaran bertanah air. Dalam bahasa yang lain, hari santri merupakan penanda berurat-berakarnya spiritualitas, dan patriotisme masyarakat Indonesia yang komitmennya dirajut melalui pesantren secara substansial,” pungkasnya.

Penulis : Luki Amima
spot_img

Headline

spot_img
spot_img