MAKASSAR, SULSELEKSPRES.COM – Biaya cukai hasil tembakau (HT) secara resmi dinaikkan oleh pemerintah pusat, terhitung sejak tanggal (1/1/2020) yang lalu.
Kenaikan cukai hasil tembakau ini berpengaruh langsung terhadap nilai jual rokok di pasaran. Dengan begitu, beberapa masyarakat memutuskan untuk mengurangi bahkan berhenti dari aktivitas merokok.
Meski begitu, beberapa kalangan justru memilih tembakau linting sebagai solusi yang tepat untuk mengganti rokok industri (kemasan pabrik).
Hal ini diakui oleh Wawan, salah seorang warga tidung IX, kelurahan Mappala, kecamatan Rappocini, kota Makassar, yang mulai beralih mengkonsumsi tembakau linting.
Menurutnya, kenaikan harga rokok yang biasa ia konsumsi memang belum meningkat drastis, akan tetapi Wawan yakin bahwa harga rokok bakal naik dalam waktu dekat.
“Iye linting sendiri. Karena kan dinaikkan mi cukai tembakau. Pasti naik nanti harga rokok. Sekarang memang belum pi naik sekali karena masih cukai 2019 yang banyak beredar di penjual.”
“Kalau gulung sendiri kan tidak terlalu repot ji. Harganya juga selisih jauh, hampir dua kali lipat,” ujar Wawan dengan dialeg khas Sulawesi.
Terkait cita rasa sendiri, bapak satu anak tersebut mengaku memang ada perbedaan. Ia juga memilih tembakau linting sebagai upaya mengurangi intensitas merokok yang sudah menjadi rutinitasnya sepuluh tahun terakhir.
“Saya aktif merokok sekitar 10 tahun belakangan ini. Dulu memang merokok, tapi masih jarang,” bebernya kepada reporter Sulselekspres.com, Kamis (13/2/2020) pagi.
“Kalau soal rasa pasti beda. Kalau rokok pabrikan kan ada filternya, lebih halus. Bagus ki takarannya. Kalau tembakau linting keras, pedis juga kalau terlalu banyak dihisap. Ya mudah-mudahan bisa berhenti nanti,” terangnya sambil berkelakar.
Selain konsumen, beberapa distributor tembakau linting juga mengakui peningkatan penjualan mereka. Hal ini juga dirasakan oleh Enggar, yang mengakui peminat tembakaunya mulai meningkat.
“Kalau penjualan sih pasti meningkat ya. Tapi tidak serta-merta karena kenaikan cukai rokok. Memang saya dari dulu sudah punya niat untuk perkenalkan tembakau lokal, sebelum isu kenaikan cukai rokok ramai dibahas,” terangnya.
“Saya sama teman-teman memang suka dengan tembakau linting. Awalnya cuma penasaran eksplore rasa saja, tapi lama-lama jadi suka hisap juga. Akhirnya inisiatif jualan dan sekarang lumayan lah,” ungkap Enggar saat ditemui di salah satu cafe, Kamis (13/2/2020) siang.
Lebih jauh pria bercambang tersebut mengatakan bahwa rasa tembakau linting juga memiliki berbagai varian rasa, tergantung dari daerah mana tembakau berasal.
“Tembakau linting ini kan banyak rasa juga. Tergantung dia dari daerah mana. Kan macam-macam jenisnya. Ada Gayo Aceh, ada dari Lombok, ada Ico Ogi, pokoknya macam-macam jenisnya,” terang Enggar.



