Berdasarkan data BPS, jumlah penduduk miskin di Sulsel periode September 2017 mengalami peningkatan. Persentase penduduk miskin mencapai 9,48 persen atau setara 825,97 ribu jiwa. Angka itu melonjak dibandingkan kondisi September 2016 maupun Maret 2017.
Kemiskinan itu juga berbanding lurus dengan ketimpangan ekonomi dan pembangunan antara kota dan desa.
BACA: Lewat Tangan Dingin RMS, Pengangguran di Sidrap Menurun
Masih merujuk data BPS, tingkat ketimpangan pendapatan di Sulsel melonjak menjadi 0,429. Gini ratio di Sulsel lebih tinggi dari angka nasional sebesar 0,391. Bahkan, Sulsel menempati urutan kedua dengan tingkat ketimpangan pendapatan tertinggi di Indonesia. Semakin lebarnya ketimpangan di Sulsel tidak lepas karena pembangunan dan perekonomian yang tidak merata.
Tak berbeda dengan kemiskinan dan ketimpangan, angka pengangguran di Sulsel juga semakin bertambah dalam setahun terakhir. Hal tersebut terlihat dari Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) yang menembus 5,61 persen periode Agustus 2017 mengacu pada data BPS. Padahal, TPT di Sulsel pada periode yang sama pada tahun lalu hanya 4,6 persen.
“Melihat statistik itu, ya sudah jelas Sulsel butuh sosok pemimpin dengan jaringan kuat di level nasional. Untuk membangun Sulsel tidak bisa hanya mengandalkan APBD, harus piawai menarik APBN dan mengundang investor,” ujar Ketua DPD Hanura Sulsel, Andi Ilhamsyah Mattalatta yang juga dipandang sebagai tokoh masyarakat.



