26 C
Makassar
Saturday, April 11, 2026
HomeRagamTerlalu Lelah Bisa Berdampak bagi Kondisi Jantung

Terlalu Lelah Bisa Berdampak bagi Kondisi Jantung

- Advertisement -

SULSELEKSPRES.COM – Jika sampai kita kesulitan untuk menghilangkan rasa lelah, dampaknya bisa sangat buruk bagi kesehatan, termasuk dalam hal menyebabkan gangguan pada jantung.

Dalam dunia medis, kelelahan yang berlebihan dan disebabkan oleh pekerjaan disebut sebagai burnout syndrome. Tak hanya membuat kita tak lagi bisa bekerja dengan maksimal dan sulit berkonsentrasi, hal ini ternyata bisa memberikan pengaruh buruk bagi denyut jantung.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dilansir dari laman DokterSehat menyebut burnout syndrome tidak termasuk dalam kondisi medis. Hal ini lebih ke fenomena yang terjadi pada mereka yang bekerja. Dampak dari kondisi ini adalah stres parah yang membuat tubuh dan pikiran terasa sangat lelah. Selain itu, rasa lelah ini juga bisa berdampak pada ketidakpuasan pada diri sendiri yang tidak bisa meraih ekspektasi.

Masalahnya adalah hal ini bisa menurunkan performa dan motivasi untuk bekerja dengan siginfikan. Beruntung, pakar kesehatan memastikan bahwa hal ini tidak akan memicu peningkatan risiko terkena depresi. Hanya saja, bisa jadi hal ini akan membuat sistem kekebalan tubuh menurun sehingga Jantungkita akan mudah terkena flu atau demam.

Selain itu, penelitian terbaru bahkan menunjukkan bahwa burnout syndrome bisa saja menyebabkan gangguan denyut jantung. Kondisi ini tidak bisa disepelekan, apalagi jika kita memiliki faktor risiko terkena masalah kardiovaskular. Fakta ini terungkap dalam penelitian yang dipublikasikan hasilnya dalam European Journal of Preventive Cardiology.

BACA: Dampak Insomnia bagi Risiko Penyakit Jantung dan Stroke

Dalam penelitian ini, sekitar 11 ribu peserta dilibatkan untuk mengetahui bagaimana dampak dari rasa lelah, emosi atau amarah, penggunaan obat yang bisa mengatasi depresi, hingga kondisi sosial di sekitar para partisipan. Para partisipan juga dicek irama denyut jantungnya selama 25 tahun.

Hasilnya adalah, partisipan yang cenderung mudah mengalami burnout syndrome karena sangat kelelahan memiliki risiko lebih besar 20 persen terkena gangguan irama jantung atrial fibrilasi dibandingkan dengan partisipan yang tidak mudah mengalami masalah tersebut.

spot_img

Headline

spot_img
spot_img