PAREPARE, SULSELEKSPRES.COM – Senator PDIP dalam waktu dekat akan menggelar Seminar Nasional Penganugrahan Pahlawan Nasional Anregurutta’ KH. Abdurrahman Ambo Dalle.
Seminar yang rencananya akan berlangsung pada Minggu, 28 Oktober 2018 mendatang tersebut, akan memperjuangkan tokoh agama Sulawesi Selawatan yang juga pendiri Pesantren Mangkoso, Anregurutta’ KH. Abdurrahman Ambo Dalle diangkat sebagai pahlawan nasional.
Inisiator Seminar Nasional Penganugrahan Pahlawan Nasional Anregurutta’ KH. Abdurrahman Ambo Dalle, Prof. Hamka Haq mengatakan, pengaruh besar AGH. Ambo Dalle bagi umat Islam Sulsel sangatlah besar. Baik secara Sosial, Keagamaan, hingga pemerintahan.
Maka tidak heran, kata dia, jika kekuatan-kekuatan sosial politik sejak zaman Orde Baru, selalu berusaha memberi penghormatan kepada beliau, pengikut, dan pengagumnya.
“Untuk kepentingan lebih besar di saat sekarang, patutlah beliau diberi gelar Pahlawan Nasional, tidak sekedar menghormati jasa beliau dalam dunia pencerdasan bangsa, tetapi juga dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia,” katanya, Minggu (14/10/2018).
Olehnya itu, pihaknya berharap dengan adanya seminar tersebut, Anregurutta KH. Abdurrahman Ambo Dalle sebagai salah satu tokoh terkemuka di Sulsel dengan berbagai jasanya disegala sisi kehidupan sudah seharusnya diberi gelar terhormat.
“Mudah-mudahan semua berjalan dengan lancar dan sesuai dengan yang diharapkan,” jelasnya.
Sekedar diketahui, Darud Dakwah wal Irsyad (DDI) merupakan salah satu organisasi kemasyarakatan dibidang agama Islam, yang didirikan oleh AGH Abdurahman Ambo Dalle melalui sebuah pesantren, di Mangkoso, Barru tahun 1930, kini berkembang menjadi ormas yang membawahi ratusan cabang, ribuan madrasah, ratusan pesantren dan sejumlah Perguruan Tinggi Islam tersebar khususnya di wilayah Timur Indonesia.
Pada umumnya, warga DDI menganut paham Ahlusunnah Waljamaah (Aswaja) yang dikembangkan oleh NU, sehingga secara otomatis warga DDI adalah juga warga NU. Bahkan, struktur kepengurusan DDI pada umumnya adalah ulama, tokoh dan petinggi NU di Sulsel. Namun, dalam aktifitas sosial keagamaan, mereka lebih eksis sebagai warga DDI, hal ini tampak pada madrasah, pesantren, dan perguruan tinggi Islam yang pada umumnya berafiliasi ke ormas DDI.
Di bawah kepemimpinan AGH. Ambo Dalle, DDI telah melahirkan sejumlah ulama besar, yang berkiprah di tingkat nasional dan daerah. Seperti di antara lain Prof.K.H. Ali Yafi (Mantan Ketua Umum MUI Pusat, dan mantan Rais Am Syuriah PBNU), DR. (Hc) AGH Sanusi Batjo (Rais Syuriah PB NU, Ketua Umum MUI Sul-Sel 1995–sekarang), adalah alumni Pesantren DDI. Bahkan dapat dikatakan sebahagian besar ulama dan cendekiawan Islam, bahkan pejuang kemerdekaan RI di Sul-Sel adalah alumni madrasah DDI di kampungnya.
Dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, AGH. Ambo Dalle telah menanamkan spirit kemerdekaan di kalangan santrinya. Tak sedikit ustadz dan pembina DDI gugur dalam perang melawan tentara Jepang dan Sekutu.
Lahirnya TRIPS (Tentara Republik Indonesia Persiapan Sulawesi) pimpinan Andi Mattalatta yang kemudian bergabung dengan Laskar di Jawa, adalah berkat dukungan moril dari ulama kharismatik AGH. Ambo Dalle.
Bahkan terlaksananya konferensi kelaskaran di Paccekke Barru, 20 Januari 1947, atas mandat Panglima Soedirman adalah tak lepas dari dukungan moril ulama tersebut. Konferensi tersebut melahirkan Divisi TRI (Tentara Republik Indonesia) Sulawesi Selatan-Tenggara (Sulselra) sebagai embrio Kodam XIV Hasanuddin.



